Ritual Memanggil Hujan Kini Seni Pertunjukan

Diposting pada

Jakarta – Suara cambuk tiba-tiba memecah suasana. Di tengah arena terbuka, dua pria saling berhadapan dan bergantian mengayunkan pilinan lidi aren ke tubuh lawannya.

Sekilas, adegan itu tampak seperti pertarungan. Namun, tak ada amarah di sana. Setelah tiga kali cambukan, mereka justru berjabat tangan dan saling memaafkan.

Inilah Tiban, tradisi adu cambuk yang berkembang di tengah masyarakat Lampung Timur. Dahulu, tradisi ini dipercaya sebagai ritual untuk memohon turunnya hujan saat musim kemarau. Kini, Tiban menjelma menjadi seni pertunjukan sekaligus cara masyarakat menjaga warisan budaya.

Di balik cambukan yang meninggalkan rasa sakit, tersimpan makna budaya dan harapan masyarakat agar hujan segera turun

Tiga Kali Cambuk, Bukan untuk Saling Melukai
Pelaksanaan Tiban memiliki aturan yang harus dipatuhi para peniban atau peserta. Mereka diberi kesempatan mencambuk lawan sebanyak tiga kali secara bergantian.

Bagian tubuh yang menjadi sasaran pun dibatasi. Cambukan tidak boleh diarahkan ke kepala, tetapi hanya diperbolehkan mengenai bagian dada hingga pinggang.

Setiap kali satu cambukan dilakukan, seorang plandang atau wasit akan mengatur jalannya pertunjukan. Permainan dihentikan sejenak sebelum kembali dilanjutkan.

Di sela-sela itu, suasana justru berubah. Para peniban menari mengikuti iringan musik gamelan.

Nuansa keras dari suara cambuk berpadu dengan alunan musik tradisional, menciptakan pertunjukan yang menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat.

Begitu pertunjukan berakhir, kedua peniban juga tidak membawa dendam dari arena.

Mereka berjabat tangan dan saling bermaafan. Sebab, esensi Tiban bukanlah pertarungan untuk menjatuhkan atau menyakiti lawan, melainkan bagian dari tradisi dan kebersamaan masyarakat.

Imam Maksum, penyelenggara Tiban sekaligus Ketua Badak Lampung, menjelaskan pertandingan dilakukan secara bergantian dengan masing-masing peserta mendapat tiga kesempatan mencambuk.

Menurut dia, keberadaan plandang menjadi salah satu unsur penting untuk memastikan pertandingan berlangsung sesuai aturan dan tidak menimbulkan dendam antarpeserta.