Tirana – Demonstran dan polisi antihuru-hara terlibat bentrokan sengit di pusat Tirana, ibu kota Albania, pada Sabtu (17/10/2026). Bentrokan itu terjadi untuk hari kelima berturut-turut.
Di awal demonstrasi hari Sabtu, para pengunjuk rasa membakar sebuah koper dan melemparkannya ke halaman Kementerian Pendidikan. Aksi tersebut merupakan simbol tekad anak-anak muda untuk tetap tinggal di Albania, alih-alih pergi ke luar negeri demi mencari kehidupan yang lebih baik.
Para demonstran bertopeng, yang sebagian besar merupakan pelajar SMA dan mahasiswa, melempari polisi dengan batu dan bom molotov. Polisi saat itu tengah berusaha mengamankan gedung Kementerian Pendidikan yang menjadi salah satu titik utama demonstrasi.
Polisi membalas dengan mengerahkan mobil meriam air dan menembakkan gas air mata hingga membuat massa berhamburan. Sejumlah laporan juga menyebutkan bahwa polisi untuk pertama kalinya menggunakan peluru karet. Kepala Kepolisian Albania, Skender Hita, kemudian mengonfirmasi dalam konferensi pers bahwa peluru karet memang digunakan, tetapi dalam jumlah terbatas.
Demonstrasi antipemerintah ini bermula pada Mei 2026, ketika masyarakat menolak proyek pembangunan kawasan wisata mewah di pesisir selatan Albania yang melibatkan perusahaan investasi Jared Kushner, menantu Presiden AS Donald Trump. Proyek tersebut menuai protes karena dikhawatirkan merusak lingkungan, serta memunculkan tuduhan korupsi dan kurangnya transparansi pemerintah.
Gerakan yang dikenal sebagai Revolusi Flamingo itu kemudian berkembang menjadi aksi antipemerintah yang lebih luas. Para pelajar dan mahasiswa turut bergabung untuk memprotes mahalnya biaya kuliah, buruknya fasilitas pendidikan, serta terbatasnya kesempatan kerja bagi kaum muda. Ketidakpuasan yang semakin meluas, ditambah berbagai tuduhan korupsi yang menyeret pemerintahan Perdana Menteri Edi Rama, mendorong massa menuntut pengunduran dirinya.
Banyak demonstran di pusat Tirana mengenakan masker gas atau penutup wajah untuk melindungi diri. Sementara itu, sejumlah relawan membagikan alat suntik berisi larutan garam untuk membilas mata dan mengurangi rasa perih akibat gas air mata yang menyelimuti jalanan.
Sepanjang Sabtu, BBC melaporkan bahwa suara ledakan bom molotov terus terdengar.
Menjelang sore, massa mulai mengalihkan aksi mereka ke kantor Perdana Menteri (PM) Edi Rama yang terletak di jalan utama kota tersebut.
Jumlah demonstran yang berkumpul di lokasi itu jauh lebih banyak dibandingkan hari-hari sebelumnya.
Polisi antihuru-hara terus dihujani lemparan batu jalanan dan kembang api. Mereka membalas dengan menembakkan gas air mata secara bertubi-tubi. Beberapa tabung gas air mata bahkan jatuh jauh di belakang kerumunan demonstran hingga memicu kepanikan.
Namun, tembakan gas air mata justru membuat massa semakin marah. Mereka menunggu hingga gas mulai menghilang, lalu kembali menyerang polisi.
Asap hitam membubung dari sebuah kendaraan yang terbakar, sementara suara sirene mobil polisi dan ambulans terdengar bersahutan sepanjang sore.
Menjelang malam, pasukan khusus kepolisian tiba untuk memperkuat barisan polisi antihuru-hara.
Banyak orang dari kedua pihak mengalami luka-luka. Dalam lima hari terakhir, sebanyak 167 orang telah ditangkap dan 388 orang lainnya menghadapi proses hukum pidana terkait kerusuhan tersebut. Sementara itu, sebanyak 132 anggota polisi dilaporkan terluka.
Di tengah meningkatnya kekerasan, tujuh anggota polisi juga telah diberhentikan sementara dari tugasnya dan sedang menjalani pemeriksaan internal atas dugaan penggunaan kekuatan secara berlebihan.
Kondisi pusat Tirana kini semakin menyerupai zona perang, dengan pecahan kaca dan puing-puing bekas kebakaran berserakan di jalanan.
Di dekat gedung Kementerian Pendidikan yang hangus terbakar, seorang mahasiswa kedokteran bernama George, 19 tahun, berdiri dengan wajah tertutup syal dan mata terlindungi kacamata khusus.
George juga bekerja sebagai teknisi listrik untuk membiayai kuliahnya. Ia merupakan salah satu dari ribuan orang yang mengikuti demonstrasi sejak awal Juni, yang belakangan semakin sering diwarnai kekerasan.
Dengan kedua tangan yang mengenakan sarung tangan, George menggenggam dua batu yang hendak dilemparkannya ke arah polisi.
Ketika ditanya apakah ia khawatir lemparan batu tersebut akan melukai polisi, George menjawab, “Kami juga punya ibu. Kami juga punya keluarga.”
“Selama 135 hari kami melakukan aksi damai. Sekarang kami mencoba melakukan apa yang terjadi di Prancis… kami ingin melakukan revolusi,” katanya.
“Pemerintah kami tidak menginginkan perdamaian, jadi kami menggunakan kekerasan.”
Banyak demonstran lainnya bahkan berusia lebih muda. Salah satunya Klea, 17 tahun, yang baru memasuki tahun pertama kuliah di Tirana.
“Semua mahasiswa memboikot perkuliahan dan meninggalkan kampus untuk memperjuangkan hak-hak kami,” ujarnya.
Klea juga menuding adanya provokator yang menyusup ke tengah demonstrasi dan merusak toko serta bank. Ia menduga aksi perusakan itu bertujuan mencoreng citra gerakan demonstrasi.warganet88










