KNKT Ungkap Masinis KA Argo Bromo Anggrek Sempat Lakukan Pengereman Sebelum Tabrakan dengan KRL

Diposting pada

Jakarta – Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mengungkap masinis KA Argo Bromo Anggrek sempat melakukan pengereman dan memperbanyak penggunaan “Semboyan 35” sebelum insiden tabrakan dengan KRL di Bekasi Timur, Jawa Barat, pada 27 April 2026.

Langkah tersebut dilakukan setelah masinis menerima informasi dari pusat pengendali operasi mengenai adanya “temperan” atau tabrakan di jalur rel bagian depan.

Ketua KNKT, Soerjanto Tjahjono, menjelaskan bahwa masinis diminta mengurangi kecepatan dan meningkatkan kewaspadaan selama perjalanan.

“Jadi kondisi lapangannya seperti apa dia enggak tahu, cuma diberitahu bahwa ada temperan di depan, rem-rem dikit. Terus kemudian banyak-banyak melakukan semboyan 35,” ujar Soerjanto usai rapat kerja dengan Komisi V DPR RI di Jakarta, Kamis (22/5/2026).

Apa Itu Semboyan 35?

Dalam dunia perkeretaapian Indonesia, Semboyan 35 merupakan sinyal suara berupa bunyi klakson atau suling lokomotif yang dibunyikan panjang oleh masinis.

Semboyan ini memiliki fungsi penting dalam sistem keselamatan perjalanan kereta api.

Biasanya, Semboyan 35 digunakan untuk:

  • Menandakan kereta siap diberangkatkan
  • Memberi jawaban kepada kondektur dan PPKA (Pengatur Perjalanan Kereta Api)
  • Memberikan peringatan saat melintas di perlintasan jalan raya
  • Mengingatkan orang atau hewan agar menjauh dari rel kereta

Dalam aturan persinyalan kereta api Indonesia, Semboyan 35 termasuk kategori semboyan suara yang wajib dipatuhi masinis.

Bahkan di beberapa titik terdapat marka khusus bernama Semboyan 8K, yaitu papan bertuliskan “S.35” yang menandakan masinis wajib membunyikan klakson di area tersebut.

Masinis Mulai Mengerem dari Jarak 1,3 Kilometer

KNKT juga mengungkap bahwa masinis KA Argo Bromo Anggrek telah mulai melakukan pengereman secara perlahan sejak sekitar 1,3 kilometer sebelum lokasi kejadian di Stasiun Bekasi Timur.

Menurut Soerjanto, pengereman dilakukan segera setelah masinis menerima laporan adanya insiden di jalur depan.

“Dari jarak 1.300 meter setelah menerima berita bahwa di depan ada temperan, masinis sudah melakukan pengereman,” kata Soerjanto.

Meski demikian, kereta tetap mengalami insiden tabrakan dengan KRL di jalur tersebut.

Penyebab Kecelakaan Masih Diinvestigasi

KNKT menegaskan bahwa penyebab utama kecelakaan hingga kini masih dalam proses investigasi mendalam.

Tim investigasi saat ini masih mengumpulkan dan menganalisis berbagai data teknis maupun operasional untuk mengetahui secara pasti rangkaian penyebab kecelakaan.

KNKT memperkirakan hasil akhir investigasi baru dapat disimpulkan dalam waktu sekitar dua hingga tiga bulan ke depan.

“Saat ini investigasi masih berjalan dan semua data sedang dianalisis,” ujar Soerjanto.

Hasil investigasi nantinya akan digunakan sebagai bahan evaluasi untuk meningkatkan keselamatan operasional perkeretaapian di Indonesia, khususnya terkait sistem komunikasi, prosedur darurat, dan pengamanan jalur rel.