Detik-Detik Jatuhnya Soeharto: Kisah Yusril Ihza Mahendra Menyusun Teks Bersejarah 21 Mei 1998

Diposting pada

Tanggal 21 Mei 1998 menjadi salah satu momen paling bersejarah dalam perjalanan bangsa Indonesia. Hari itu, Presiden Soeharto resmi mengakhiri kekuasaannya setelah memimpin Indonesia selama 32 tahun di era Orde Baru.

Namun di balik pembacaan pernyataan berhenti di Istana Merdeka, tersimpan kisah dramatis mengenai penyusunan teks pidato yang melibatkan Yusril Ihza Mahendra, sosok yang saat itu menjadi penulis pidato sekaligus orang kepercayaan Soeharto.

Malam Menegangkan di Jalan Cendana

Dalam tayangan Liputan 6 Petang SCTV yang dikutip Sabtu (21/5/2016), Yusril mengenang kembali suasana mencekam di kediaman Soeharto di Jalan Cendana, Menteng, Jakarta Pusat, pada malam 20 Mei 1998.

Saat itu, gelombang demonstrasi mahasiswa semakin besar dan situasi politik nasional berada di titik kritis. Soeharto disebut mulai menyadari bahwa pemerintahannya sulit dipertahankan.

Menurut Yusril, Soeharto akhirnya menyampaikan niat untuk mengakhiri jabatannya.

“Ya sudah, kalau begitu saya mundur saja besok. Kamu urus bagaimana cara saya berhenti,” ujar Soeharto, seperti ditirukan kembali oleh Yusril.

Mendengar perintah tersebut, Yusril bersama sejumlah orang dekat Soeharto langsung menyusun konsep pernyataan resmi penghentian kekuasaan Orde Baru.

Soeharto Tolak Istilah “Mengundurkan Diri”

Dalam proses penyusunan pidato, muncul perdebatan penting mengenai pilihan kata yang akan digunakan dalam pernyataan resmi presiden.

Yusril mengungkapkan, Soeharto sejak awal menolak penggunaan istilah “mengundurkan diri” dan lebih memilih kata “berhenti”.

Menurut Soeharto, penggunaan istilah “mundur” yang diajukan kepada MPR berpotensi menimbulkan masalah hukum apabila ditolak oleh lembaga tersebut.

“Kondisi selanjutnya tak terprediksi,” kenang Yusril mengenai alasan Soeharto saat itu.

Karena itu, pemilihan diksi dalam pidato dianggap sangat penting demi menjaga stabilitas politik dan konstitusional negara.

Ketegangan Saat Menuju Istana Negara

Drama belum selesai ketika pagi 21 Mei 1998 tiba. Dalam perjalanan menuju Istana Negara, Soeharto kembali membaca teks pidato yang telah disusun Yusril.

Di tengah perjalanan, Soeharto meminta tambahan satu kalimat penting:

“Kabinet dinyatakan demisioner.”

Kalimat tersebut berarti seluruh menteri kabinet kehilangan kewenangannya secara politik, meski tetap menjalankan tugas administratif hingga kabinet baru dibentuk.

Namun, Yusril merasa ragu menambahkan kalimat itu. Sebagai ahli hukum tata negara, ia menilai posisi Wakil Presiden B.J. Habibie saat itu seharusnya dapat melanjutkan pemerintahan tanpa perlu membubarkan kabinet secara langsung.

Soeharto Ambil Pulpen dan Menulis Sendiri

Karena Yusril tidak segera menambahkan kalimat tersebut, Soeharto disebut tersinggung dan memutuskan menulisnya sendiri.

“Kalau tak mau tulis ‘demisioner’, sini saya sendiri yang tulis,” ujar Soeharto kepada Yusril.

Menurut cerita Yusril, Soeharto kemudian mengambil pulpen dan menambahkan sendiri kalimat tersebut di atas naskah pidato.

Tak lama setelah itu, Soeharto melangkah menuju Istana Merdeka untuk membacakan pernyataan berhenti yang kemudian mengubah arah sejarah Indonesia.

Akhir Era Orde Baru

Pidato singkat yang dibacakan Soeharto pada 21 Mei 1998 menjadi penanda berakhirnya era Orde Baru setelah tiga dekade berkuasa.

Setelah Soeharto menyatakan berhenti sebagai Presiden Republik Indonesia, Wakil Presiden B.J. Habibie langsung dilantik untuk melanjutkan pemerintahan sesuai ketentuan konstitusi.

Peristiwa tersebut hingga kini masih dikenang sebagai salah satu titik balik terbesar dalam sejarah politik Indonesia modern.