Kerja Sama Kota Bandung Jabar dan Kota Kawasaki, Jepang Perkuat Pengelolaan Lingkungan Air

Diposting pada

Kerja sama antara Kota Bandung, Jawa Barat (Jabar) dan Kota Kawasaki, Jepang dalam upaya perbaikan kualitas lingkungan air terus menunjukkan perkembangan positif. 

Hal tersebut disampaikan Manajer Unit Promosi Proyek Internasional, Misu Yukihiko saat memaparkan perjalanan serta capaian proyek kerja sama teknis Bandung City and Kawasaki City Gesuido Project (BKG) di Pendopo Kota Bandung.

Pengelolaan air limbah domestik masih menjadi pekerjaan besar bagi Kota Bandung. Hingga saat ini, lebih dari 80 persen wilayah kota masih bergantung pada sistem perpipaan air limbah dan penggunaan septic tank. 

Ia menyoroti masih adanya sambungan pipa yang tidak terhubung dengan baik, sehingga limbah rumah tangga langsung mengalir ke sungai tanpa melalui proses pengolahan.

Selain itu, banyak septic tank yang tidak disedot secara berkala, sehingga berpotensi mengalami kebocoran dan mencemari lingkungan sekitar. 

Proyek BKG tidak hanya berfokus pada pembangunan dan perbaikan infrastruktur pengelolaan air limbah, tetapi juga pada penguatan sistem serta perubahan perilaku masyarakat. 

“Karena itu, kami menilai peningkatan kepedulian masyarakat menjadi poin penting yang harus dimasukkan dalam proyek ini,” kata Micu, melansir Antara, Jumat (23/1/2026). 

Melalui kerja sama tersebut, diharapkan dapat memperkuat upaya Pemerintah Kota Bandung dalam meningkatkan kualitas lingkungan air sekaligus mendorong pengelolaan limbah domestik yang lebih berkelanjutan di masa mendatang.

Kolaborasi Lintas Sektor

Proyek BKG melibatkan sejumlah perangkat daerah strategis di Kota Bandung, mulai dari Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM), Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPKP), Dinas Lingkungan Hidup (DLH), hingga Perumda Tirtawening. 

Kolaborasi lintas sektor ini diarahkan untuk meningkatkan pengetahuan dan kapasitas aparatur pemerintah daerah, badan usaha milik daerah, serta masyarakat dalam upaya perbaikan lingkungan air.

Selain penguatan kapasitas di tingkat lokal, proyek ini juga membuka ruang pertukaran pengalaman antara Kota Bandung dan Kota Kawasaki.

Selama tiga tahun pelaksanaan, tercatat sebanyak 13 kegiatan dilakukan di Kota Bandung dengan melibatkan 54 staf Pemerintah Kota Kawasaki. 

Di sisi lain, staf dari Kota Bandung mengikuti lima kali pelatihan di Kawasaki dengan total 25 peserta. Secara keseluruhan, sekitar 50 pertemuan telah dilaksanakan di kedua kota sebagai bagian dari proses pembelajaran bersama dan transfer pengetahuan.

Edukasi dan Berkelanjutan Proyek BKG

Berbagai capaian berhasil diraih dari proyek BKG. Pada output pertama, tim proyek menyusun beragam materi edukasi bagi staf dan masyarakat, termasuk video serta materi visual dengan karakter khusus agar pesan terkait pengelolaan air limbah lebih mudah dipahami dan diterima.

Output kedua difokuskan pada peningkatan kapasitas para pemangku kepentingan pengelolaan air limbah. Dua kali pelatihan staf telah dilaksanakan dengan melibatkan 172 peserta. Dari kegiatan tersebut, tercatat 84 persen peserta mengalami peningkatan pemahaman terkait pengelolaan lingkungan air.

Sementara itu, output ketiga menitikberatkan pada peningkatan kesadaran masyarakat sejak usia dini. Dua kali seminar digelar dengan melibatkan 338 siswa sekolah dasar kelas 4 beserta orang tua mereka. 

Hasil survei menunjukkan 89 persen peserta mengalami peningkatan pemahaman setelah mengikuti seminar. Bahkan, tiga bulan kemudian, sekitar 80 persen peserta mulai menerapkan perubahan perilaku dalam kehidupan sehari-hari.

Terkait keberlanjutan proyek, mekanisme berantai dalam penyebaran pengetahuan. Para kontraparti yang telah mendapatkan pelatihan diharapkan mampu melatih staf lainnya, yang selanjutnya meneruskan edukasi tersebut kepada masyarakat luas. 

Terdapat tiga fokus utama yang diharapkan terus berjalan, yakni pelatihan berkelanjutan bagi staf, penguatan kapasitas di tingkat distrik, serta penyediaan materi edukasi sebagai bagian dari pembelajaran di sekolah dasar.

“Kami berharap mekanisme ini bisa mengakar di masyarakat Kota Bandung dan pada akhirnya menyebar ke wilayah yang lebih luas di Indonesia,” tutur Misu.