Jakarta – Kementerian Kehutanan bersama tim gabungan memperkuat operasi pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menyusul peningkatan hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi atau high confidence, terutama di wilayah Kalimantan.
Penguatan dilakukan melalui respons cepat di lapangan, pemadaman darat, water bombing, patroli udara, pembasahan lahan, serta pemanfaatan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) sesuai kondisi meteorologis.
Berdasarkan data SiPongi Kementerian Kehutanan yang bersumber dari satelit NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20, hingga Senin 14 September 2026 pukul 21.05 WIB, secara nasional terdeteksi 1.437 hotspot high confidence, meningkat dibandingkan 592 titik pada hari sebelumnya.
Konsentrasi hotspot terbesar berada di Kalimantan Tengah (689), diikuti Kalimantan Barat (203), Sumatra Selatan (116), dan Kalimantan Selatan (112). Kondisi tersebut menjadi dasar penguatan patroli, groundcheck, pemadaman, dan dukungan operasi udara pada wilayah yang membutuhkan respons segera.
Di sisi lain, perkembangan lebih baik terlihat di Jambi (9), sementara Riau kembali tidak mencatat hotspot high confidence pada pemantauan terakhir.
Kementerian Kehutanan menegaskan bahwa hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi satelit dan tidak serta-merta menunjukkan satu kejadian kebakaran. Satu kejadian kebakaran dapat menghasilkan beberapa hotspot. Karena itu, seluruh indikasi tetap diverifikasi melalui groundcheck dan kondisi aktual di lapangan.
Peningkatan hotspot terjadi di tengah kondisi atmosfer yang masih relatif kering. Dalam prakiraan periode 15-21 September, BMKG mencatat sekitar 81 persen Zona Musim di Indonesia telah memasuki musim kemarau, sementara 1.637 titik pengamatan mengalami Hari Tanpa Hujan kategori ekstrem atau lebih dari 60 hari berturut-turut.
BMKG juga mendeteksi sebaran asap melalui citra satelit Himawari-9 pada 14 September di sejumlah wilayah Sumatera, Kalimantan, Maluku, dan Papua. Kondisi kering diprakirakan masih mendominasi, sehingga risiko karhutla dan bertahannya kebakaran, terutama pada lahan gambut, masih perlu diwaspadai.










