Liputan6.com, Jakarta – Inara Rusli memaknai Hari Raya Idul Fitri sebagai momen yang tepat untuk intropeksi diri dan memperbaiki segala aspek kehidupan. Bukan hanya urusan antar manusia, tapi juga memperbaiki hubungan dengan Sang Maha Pencipta.
“Pastilah, kita harus perbaikin ibadah juga, perbaikin amalan, kemudian juga perbaikin hubungan kita sama Allah, juga perbaikin hubungan kita sesama manusia,” kata Inara Rusli di Kawasan Mampang, Jakarta Selatan, Minggu (15/3/2026).
Inara tetap mengutamakan sentuhan personal dalam bersilaturahmi, meskipun interaksi sosial di era digital semakin mudah. Ia merasa bahwa kunjungan secara fisik ke rumah kerabat jauh lebih bermakna dibandingkan sekadar mengirimkan pesan permohonan maaf melalui layar ponsel.
“Kita temui siapa pun yang bisa kita temui, selama kita masih diberikan napas, diberi umur sama Allah, untuk perpanjang silaturahmi, itu lebih baik sih dibandingkan lewat WhatsApp,” katanya.
Tradisi mengunjungi kerabat yang lebih tua merupakan sebuah kebiasaan yang masih dipertahankan kuat oleh perempuan kelahiran Jakarta ini. Momen libur panjang menjadi kesempatan emas bagi Inara untuk berkumpul bersama orang tercinta.
“Pasti, karena memang harus silaturahmi. Karena kalau hari-hari biasa kan kita pasti ada kesibukan kan? Di kerjaan atau apa,” tuturnya.
Kemeriahan Lebaran identik dengan kebiasaan membagikan angpao atau Tunjangan Hari Raya (THR) kepada sanak saudara. Inara juga tidak pernah absen menjalankan tradisi tersebut demi membahagiakan anggota keluarga yang masih kecil.
“Ada lah pasti, kan sebenarnya dalam rangka meningkatkan minat anak-anak ya, anak-anak kecil, supaya mereka selalu excited menyambut hari raya. Selalu excited untuk menjalankan ibadah puasa,” imbuh Inara.

