Tokoh Pendiri PAN Abdillah Toha Wafat di Usia 84 Tahun, Indonesia Kehilangan Pemikir Moderat

Diposting pada

Jakarta – Kabar duka datang dari dunia politik dan intelektual Indonesia. Salah satu pendiri Partai Amanat Nasional, Abdillah Toha, meninggal dunia pada usia 84 tahun, Selasa (26/5/2026).

Informasi wafatnya Abdillah Toha disampaikan langsung oleh Ketua Umum PAN, Zulkifli Hasan. Dalam pernyataannya, Zulhas menyampaikan rasa kehilangan mendalam atas kepergian salah satu tokoh penting reformasi Indonesia tersebut.

“Turut berduka cita atas wafatnya tokoh bangsa Almarhum Abdillah Toha Assegaf. Kami menghaturkan dedikasi dan penghormatan setinggi-tingginya atas segala ilmu, pemikiran dan bimbingan yang telah beliau curahkan semasa hidup,” ujar Zulhas.

Ia juga mendoakan agar seluruh amal ibadah dan perjuangan almarhum diterima oleh Allah SWT serta keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan menghadapi cobaan.

Sosok Intelektual dan Tokoh Reformasi

Abdillah Toha lahir di Surakarta, Jawa Tengah, pada 29 April 1942. Semasa hidupnya, ia dikenal sebagai politikus, pemikir Islam, penulis, sekaligus pengusaha yang memiliki pengaruh besar dalam perkembangan demokrasi dan literasi Islam moderat di Indonesia.

Dalam sejarah politik nasional, Abdillah Toha menjadi salah satu tokoh penting dalam era reformasi 1998. Bersama Amien Rais dan sejumlah tokoh nasional lainnya, ia ikut mendirikan PAN sebagai partai yang lahir dari semangat perubahan pasca-Orde Baru.

Karier politiknya semakin dikenal ketika ia dipercaya menjadi anggota DPR RI periode 2004–2009. Di parlemen, Abdillah Toha sempat menjabat sebagai Ketua Fraksi PAN dan dikenal aktif menyuarakan isu demokrasi, kebebasan berpendapat, hingga reformasi kelembagaan negara.

Berkiprah di Dunia Literasi dan Pemikiran Islam

Di luar politik, Abdillah Toha juga memiliki kontribusi besar dalam dunia intelektual dan penerbitan. Alumni Australian National University itu dikenal aktif menulis opini kritis terkait isu sosial, politik, dan keagamaan di berbagai media nasional.

Ia juga tercatat sebagai salah satu pendiri penerbit Mizan, yang selama puluhan tahun menjadi rumah bagi banyak karya pemikiran Islam moderat dan literasi intelektual di Indonesia.

Pemikiran-pemikirannya dikenal menyejukkan dan menempatkan Islam sebagai kekuatan moral yang selaras dengan demokrasi, toleransi, serta kemajuan bangsa.

Analisis: Kehilangan Figur Penjaga Nalar Moderat

Wafatnya Abdillah Toha bukan hanya kehilangan bagi PAN, tetapi juga bagi tradisi intelektual dan demokrasi Indonesia. Di tengah iklim politik yang semakin keras dan polarisasi yang terus meningkat, sosok seperti Abdillah Toha menjadi semakin langka.

Ia dikenal bukan sebagai politikus populis yang gemar mencari panggung, melainkan figur pemikir yang bekerja melalui gagasan dan argumentasi. Dalam banyak tulisannya, Abdillah Toha konsisten mendorong pentingnya rasionalitas, etika politik, serta Islam yang moderat dan inklusif.

Perannya dalam membangun budaya literasi Islam modern melalui penerbitan Mizan juga memberi dampak panjang bagi generasi intelektual muda Indonesia. Banyak karya pemikiran Islam progresif dan moderat lahir melalui jalur yang ia bangun.

Kepergian Abdillah Toha menjadi pengingat bahwa bangsa ini pernah memiliki tokoh-tokoh yang menjadikan politik sebagai ruang pengabdian intelektual, bukan sekadar perebutan kekuasaan. Warisan pemikiran dan sikap moderatnya diperkirakan akan tetap relevan dalam menghadapi tantangan demokrasi Indonesia ke depan.