Tinjau Langsung Taman Gapura Muka di Cakung Jaktim, Pramono Kejar Target Perbanyak Ruang Terbuka Hijau

Diposting pada

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo kembali menegaskan langkah strategis pemerintah provinsi dalam membenahi tata ruang ibu kota melalui optimalisasi lahan-lahan potensial menjadi area hijau yang produktif.

Hal ini tercermin saat melakukan peninjauan langsung ke Taman Gapura Muka yang berlokasi di wilayah Cakung, Jakarta Timur.

ruang terbuka ini bukan sekadar penambahan estetika kota semata, melainkan wujud nyata dari komitmen Gubernur untuk mengejar target pemenuhan Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang ideal bagi warga Jakarta.

“Saya memang mencanangkan untuk membuat Jakarta lebih hijau, lebih nyaman. Maka semua ruang-ruang yang seperti ini, kita gunakan, kita manfaatkan selain untuk kita tanam menjadi ‘vertical garden‘ (taman vertikal) atau ‘rain garden’ (taman hujan) dan sebagainya,” katanya, dikutip dari Antara, Sabtu (10/1/2026).

Dalam kunjungannya, Pramono menyoroti pentingnya transformasi fungsi lahan agar tidak hanya menjadi ruang pasif, tetapi juga memberikan dampak ekologis dan sosial yang signifikan. 

Ia menekankan, setiap jengkal lahan yang tersedia, termasuk area di bawah infrastruktur besar, memiliki potensi untuk disulap menjadi paru-paru kota baru yang menyejukkan. 

Visi ini sejalan dengan keinginan untuk menciptakan Jakarta yang lebih manusiawi, di mana warganya memiliki akses mudah terhadap udara bersih dan ruang interaksi yang layak. 

Pramono mendorong agar konsep penghijauan tidak terpaku pada metode konvensional, melainkan mengadopsi pendekatan modern seperti taman vertikal yang efisien ruang maupun taman hujan (rain garden) yang berfungsi sebagai daerah resapan air.

Upaya ini menjadi sangat krusial mengingat data penelusuran menunjukkan bahwa luas RTH di Jakarta saat ini masih berada di angka yang memprihatinkan, yakni sekitar 6,48 persen dari total wilayah kota, atau setara dengan 33,34 juta meter persegi. 

Angka ini masih jauh dari amanat Undang-Undang No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang yang mensyaratkan minimal 30 persen wilayah kota dialokasikan sebagai RTH. 

“Oleh karena itu, peresmian dan penataan Taman Gapura Muka ini menjadi salah satu kepingan puzzle penting dalam upaya besar mengejar ketertinggalan tersebut, sekaligus membuktikan bahwa pemerintah daerah terus bergerak proaktif dalam menciptakan keseimbangan antara pembangunan fisik dan kelestarian lingkungan hidup di tengah padatnya metropolitan,” terang Pramono.

Fasilitas Olahraga dan Ruang Interaksi Modern

Dalam arahannya, Pramono Anung tidak ingin jajarannya, mulai dari Kepala Dinas Pertamanan dan Hutan Kota (Distamhut) hingga para wali kota, hanya sekadar membangun taman yang biasa-biasa saja.

Ia menginginkan adanya nilai tambah yang membuat taman tersebut hidup dan dimanfaatkan secara optimal oleh warga.

Pramono mengusulkan agar ruang-ruang publik ini diisi dengan fasilitas yang mendukung hobi dan kesehatan masyarakat, seperti area bermain papan luncur (skateboard) hingga sarana olahraga tinju. 

Hal ini disampaikannya secara lugas dengan harapan ruang di bawah infrastruktur pun bisa bernilai guna.

Lebih lanjut ia menambahkan ide kreatifnya mengenai pemanfaatan ruang kolong tol.

“Kalau perlu di bawah jalan tol layang begini, kita buatkan sarung tinju, orang untuk latihan bertinju, ‘skateboard‘ dan sebagainya. Supaya orang di Jakarta itu penuh kenyamanan,” ucap Pramono.

Peningkatan Keamanan dan Kenyamanan Digital

Khusus untuk Taman Gapura Muka yang baru saja diresmikan, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berjanji akan segera melengkapi fasilitas pendukung demi merespons aspirasi warga setempat. 

Pramono memastikan bahwa aspek kenyamanan digital dan keamanan fisik akan menjadi prioritas. Berdasarkan permintaan masyarakat, taman ini akan dilengkapi dengan akses internet nirkabel (Wi-Fi), fasilitas sanitasi berupa toilet yang layak, serta penambahan lampu penerangan untuk mencegah area tersebut menjadi gelap dan rawan.

“Insya Allah, semuanya akan kami penuhi. Kami juga akan melengkapi taman ini dengan CCTV agar masyarakat merasa aman dan nyaman,” tegas Pramono.

Selain itu, aspek keselamatan penyeberang jalan menuju taman juga diperhatikan dengan rencana pemasangan pelican crossing fasilitas penyeberangan yang dilengkapi lampu lalu lintas dan tombol khusus serta pemasangan pagar pengaman. 

Pramono juga berkeinginan agar taman tersebut ditanami pohon buah-buahan agar suasana menjadi lebih rimbun dan asri, meskipun untuk hal ini pihaknya perlu berkoordinasi lebih lanjut terkait perizinan dengan Kementerian Pekerjaan Umum.

Pembatasan Jam Operasional demi Pengawasan

Meskipun dirancang untuk publik, Pramono menegaskan kebijakan khusus terkait jam operasional Taman Gapura Muka Cakung. Ia memutuskan bahwa taman ini tidak akan dibuka selama 24 jam penuh. 

Kebijakan ini diambil dengan mempertimbangkan aspek pengawasan dan keamanan lingkungan sekitar.

Menurut Pramono, karakteristik Taman Gapura Muka berbeda dengan taman-taman besar yang sudah mapan seperti Lapangan Banteng yang memiliki sistem pengamanan dan fasilitas yang sangat lengkap. 

Pembatasan waktu ini bertujuan untuk meminimalisir risiko penyalahgunaan fasilitas publik di jam-jam rawan.

“Saya tidak ingin taman seperti ini tidak termonitor dengan baik. Berbeda dengan taman yang fasilitasnya sudah lengkap,” jelas Pramono.