Liputan6.com, Jakarta – Nepal mengumumkan penghentian skema deposit yang diluncurkan 11 tahun lalu. Pihak berwenang Nepal mengaku skema tersebut telah gagal mendorong pendaki membawa sampah mereka turun dari Gunung Everest karena jumlah sampah justru kian menumpuk.
Mengutip BBC, Rabu (31/12/2025), dalam skema yang gagal, para pendaki diwajibkan membayar deposit sebesar USD 4.000 (sekitar Rp66,8 juta) yang hanya akan diperoleh kembali bila pendaki membawa setidaknya delapan kilogram sampah turun bersama mereka. Skema itu diharapkan bisa membantu mengatasi masalah sampah di puncak tertinggi dunia, yang diperkirakan tertutup oleh sekitar 50 ton sampah.
Namun setelah 11 tahun – dan sampah masih terus menumpuk – skema tersebut dihentikan karena ‘gagal menunjukkan hasil yang nyata’. Himal Gautam, direktur di departemen pariwisata, mengatakan kepada BBC bahwa masalah sampah tidak hanya “belum hilang”, tetapi skema deposit itu sendiri “telah menjadi beban administratif“.
Pejabat kementerian pariwisata dan departemen pendakian gunung mengatakan kepada BBC bahwa sebagian besar uang deposit telah dikembalikan selama bertahun-tahun yang seharusnya berarti sebagian besar pendaki membawa kembali sampah mereka. Namun, skema tersebut dikatakan gagal karena sampah yang dibawa kembali para pendaki biasanya berasal dari kamp-kamp yang lebih rendah – bukan dari kamp-kamp yang lebih tinggi di mana masalah sampah paling parah.
“Dari kamp-kamp yang lebih tinggi, orang cenderung hanya membawa kembali tabung oksigen,” kata Tshering Sherpa, kepala eksekutif Komite Pengendalian Polusi Sagarmatha, yang mengelola pos pemeriksaan Everest.










