Serangan Balik Indonesia Lawan Krisis Energi Akibat Perang Iran

Diposting pada

Liputan6.com, Jakarta – Ternyata kekisruhan Israel-Amerika Serikat (AS) kontra Iran menambah pekerjaan rumah (PR) Pemerintah Indonesia untuk memaksimalkan sektor energi dalam negeri. Pemerintah harus memutar otak setelah berbagai inovasi dilakukan agar sektor migas dari hulu ke hilir menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Lantaran, efek domino dari krisis energi sudah terasa di berbagai negara antaralain Nepal, Sri Lanka dan Pakistan. Ketiga negara tersebut menerapkan penjatahan agar cadangan bahan bakar tidak kunjung habis.

Mengutip The Economist, sejumlah perusahaan di Sri Lanka melakukan penutupan pada Rabu. Sementara sekolah dan universitas melaksanakan pembelajaran daring. Sedikit berbeda, Nepal menunjukan adanya antrean panjang kala masyarakat ingin mendapatkan gas untuk memasak.

Ternyata kondisi akibat perang teluk ketiga ini sudah diprediksi oleh Kepala IMF, Kristalina Georgieva, disebut sebagai “sesuatu yang tak terpikirkan”. Seakan de javu, kondisi ini pernah dialami usai invasi Rusia ke Ukraina pada 2022.

Benua biru ingin membantu warganya dan menjaga kompor rumah tangga mereka tetap menyala. Alhasil, beban berpindah ke negara pengimpor dengan cadangan lebih kecil dan ruang fiskal yang terbatas dan menjadikan situasi yang krisis.

Terlihat pada Sri Lanka yang harus mengocek cadangan devisanya dan gagal bayar. Kemudian Pakistan, tenggelam ke dalam krisis neraca pembayaran, beralih ke IMF, dan memangkas impor.

Habis jatuh tertiban tangga, penutupan hampir total Selat Hormuz menambah risiko krisis energi global. Pakistan dan Mesir menjadi contoh paling rentan. Keduanya mengalokasikan sekitar 3–4% Produk Domestik Bruto (PDB) untuk impor energi, dengan pasokan besar berasal dari Timur Tengah, serta bergantung pada remitansi hingga 5–6% PDB.