Jakarta – Nilai tukar rupiah berhasil mengakhiri perdagangan Jumat (17/7/2026) di zona hijau di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan masih kuatnya ekspektasi suku bunga tinggi Amerika Serikat (AS). Berdasarkan data pasar, rupiah ditutup menguat 65 poin menjadi 17.921 per dolar Amerika Serikat (AS) dibandingkan penutupan sebelumnya di level 17.986 per dolar AS.
Pada perdagangan Jumat sore, mata uang rupiah bahkan sempat menguat hingga 85 poin. “Pada perdagangan sore ini, mata uang rupiah ditutup menguat 65 poin sebelumnya sempat menguat 85 poin dilevel Rp 17.921 dari penutupan sebelumnya di level Rp 17.986,” kata Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas Ibrahim Assuaibi, dalam keterangannya, Jumat (17/7/2026).
Menurut Ibrahim, sentimen eksternal masih didominasi meningkatnya eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Gelombang serangan terbaru AS terhadap sejumlah target Iran memicu kekhawatiran baru terhadap stabilitas pasokan energi global. Iran dilaporkan membalas serangan tersebut dengan meluncurkan rudal dan drone ke sejumlah pangkalan militer AS di kawasan Timur Tengah.
Di sisi lain, muncul laporan Teheran telah meminta kelompok Houthi bersiap menutup jalur pelayaran minyak di Laut Merah apabila AS menyerang infrastruktur kelistrikan Iran. Situasi tersebut mendorong harga minyak dunia tetap bertahan di level tinggi. Kenaikan harga energi dinilai berpotensi menghidupkan kembali tekanan inflasi global setelah sebelumnya mulai menunjukkan tren melandai.
“Permusuhan yang diperbarui telah memperpanjang konflik Timur Tengah hingga bulan kelima, menjaga harga minyak mentah tetap tinggi dan menghidupkan kembali kekhawatiran bahwa biaya energi yang lebih tinggi dapat memicu kembali inflasi,” ujarnya.

