Liputan6.com, Jakarta – Centre of Reform on Economics (CORE) Indonesia menilai momen Ramadan dan Lebaran berperan sebagai penahan sementara tekanan kenaikan harga barang dan bahan bakar minyak (BBM). Faktor ini didukung oleh kebijakan pemerintah serta lonjakan konsumsi musiman selama periode tersebut.
Direktur Eksekutif CORE Indonesia, Mohammad Faisal, menjelaskan bahwa salah satu kebijakan yang menahan tekanan inflasi adalah keputusan pemerintah untuk tidak menaikkan harga BBM bersubsidi, meskipun harga minyak dunia telah melampaui USD 100 per barel.
“Dikatakan menahan, ya bisa jadi dikatakan menahan, tapi pertanyaannya seberapa besar magnitude menahannya itu kan? Karena kalau tekanan global terlalu besar, ya tentu saja daya tahan daripada Ramadan dan Lebaran bisa jadi tidak begitu kuat,” ujarnya kepada Liputan6.com, Rabu (25/3/2026).
Namun, Faisal menegaskan bahwa efek tersebut hanya bersifat jangka pendek. Ia menilai daya beli masyarakat saat ini tidak sekuat tahun-tahun sebelumnya, di mana konsumsi selama Ramadan dan Lebaran lebih banyak bergantung pada Tunjangan Hari Raya (THR).
“Daya spending pada saat Ramadan dan Lebaran itu betul-betul hanya bergantung pada THR, tapi itu hanya sesaat,” kata dia.










