Liputan6.com, Jakarta – Ramadan menjadi momen refleksi spiritual sekaligus periode dengan dinamika ekonomi yang tinggi di Indonesia. Beragam aktivitas seperti persiapan sahur dan berbuka puasa, tradisi berbagi, hingga perencanaan mudik dan perayaan Hari Raya membuat pergerakan ekonomi meningkat signifikan selama bulan suci.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat aktivitas ekonomi dan transaksi keuangan di Indonesia meningkat sekitar 30–40% selama Ramadan 2025. Peningkatan ini mencerminkan tingginya mobilitas serta produktivitas masyarakat dalam memenuhi berbagai kebutuhan selama bulan puasa.
Di sisi lain, survei Snapcart pada 2025 menunjukkan sekitar 75% masyarakat memperkirakan pengeluaran mereka meningkat selama Ramadan. Kenaikan pengeluaran terutama digunakan untuk kebutuhan makanan, pakaian, hingga persiapan Lebaran.
Aktivitas sosial juga tetap menjadi bagian penting dari tradisi Ramadan di Indonesia. Sekitar 62% masyarakat menyatakan minat untuk mengikuti kegiatan buka puasa bersama atau ngabuburit, dengan alokasi anggaran berkisar Rp1 juta hingga Rp3 juta selama bulan Ramadan.
Fakta ini menunjukkan bahwa Ramadan tidak hanya menjadi momentum spiritual, tetapi juga periode penting bagi masyarakat dalam mengelola keuangan secara bijak agar kebutuhan konsumsi tetap seimbang dengan kondisi finansial.










