Liputan6.com, Jakarta – Program Waste to Energy (WtE) atau pengolahan sampah menjadi energi listrik resmi memasuki tahap tender. Sebanyak 24 perusahaan internasional yang memiliki pengalaman global tercatat mengikuti proses seleksi tersebut.
Seluruh peserta yang lolos tahap awal diwajibkan membentuk konsorsium. Skema ini dirancang untuk memperkuat kerja sama, sekaligus mendorong alih teknologi kepada perusahaan lokal maupun pemerintah daerah.
Lead of Waste to Energy Danantara Indonesia, Fadli Rahman, menjelaskan bahwa pembentukan konsorsium menjadi salah satu strategi utama dalam pengembangan proyek WtE.
Untuk tahap pertama, Danantara Indonesia memfokuskan pengembangan program ini di empat wilayah, yakni Bali, Bogor, Bekasi, dan Yogyakarta. Keempat daerah tersebut dipilih karena memiliki volume sampah yang tinggi serta kesiapan infrastruktur pendukung.
“Tender ini menunjukkan dalam menjalankan prosesnya Danantara selalu memastikan adanya tata kelola yang kuat sejak hulu, termasuk proses pemilihan Badan Usaha Pengembang dan Pengelola (BUPP) Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) yang transparan dan berbasis mitigasi risiko,” ujarnya dalam keterangan tertulis di Jakarta, Senin (16/2/2026).
Menurut Fadli, tata kelola yang baik menjadi kunci keberhasilan proyek WtE, terutama dalam menjaga keberlanjutan investasi dan manfaat jangka panjang bagi masyarakat.
Dari sejumlah perusahaan yang menjadi peserta tender WtE, tiga di antaranya berasal dari Prancis, Tiongkok, dan Jepang. Untuk memahami latar belakang serta rekam jejak global masing-masing peserta, berikut gambaran singkat mengenai ketiga perusahaan tersebut.

