Liputan6.com, Jakarta – Nilai tukar rupiah yang terus melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dinilai bukan disebabkan oleh isu pencalonan figur tertentu di Bank Indonesia. Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas Ibrahim Assuaibi menegaskan, tekanan terhadap rupiah bersumber dari persoalan global yang jauh lebih kompleks dan struktural.
“Pelemahan mata uang rupiah itu bukan semata-mata karena Thomas Djiwandono ya mencalonkan diri sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia,” kata Ibrahim dalam keterangannya, Selasa (20/1/2026).Menurut Ibrahim, pelemahan rupiah sudah terjadi sejak awal 2025 dan berlangsung konsisten hingga saat ini. Kondisi tersebut bertepatan dengan meningkatnya ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik hingga perubahan arah kebijakan ekonomi negara-negara besar.
“Dari sebelum-sebelumnya rupiah ini terus mengalami pelemahan. Pelemahan mata uang rupiah ini memang dari awal dari dilantiknya Trump ya dari awal tahun 2025 ini terus mengalami pelemahan bahkan sampai saat ini pun juga mengalami pelemahan,” ujarnya.
Ia menilai, mengaitkan pelemahan rupiah dengan pencalonan Thomas Djiwandono sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia adalah kesimpulan yang keliru. Sebab, tekanan terhadap rupiah telah terjadi jauh sebelum isu tersebut mencuat ke publik.
“Orang yang mengatakan bahwa Thomas Djiwandono yang ini membuat rupiah melemah ini menurut saya tidak,” ujarnya.










