Liputan6.com, Jakarta – Kasus dugaan keracunan massal akibat menu Makan Bergizi Gratis (MBG) di Sidikalang, Kabupaten Dairi, kian memprihatinkan. Kesaksian memilukan datang dari para siswa yang menjadi korban.
Syela Ramadhani dan Laila Tarigan, siswi SMK Arina, membeberkan kualitas makanan yang mereka santap. Menurut mereka, menu yang terdiri dari nasi, tempe, tauge, dan ikan tongkol tersebut jauh dari kata layak.
“Tempenya busuk dan rasanya pahit saat dibelah. Nasinya berair, sedangkan taugenya tidak masak atau seperti stok lama. Ikan tongkolnya juga kering,” ungkap Syela sembari memegang kantong plastik karena menahan mual.
Kepala Sekolah SMK Arina, Herman Sitorus menjelaskan, gejala mual dan muntah mulai menyerang siswa di ruang kelas XI Kecantikan pada Rabu pagi. Total 16 siswanya kini menjalani perawatan intensif. Ironisnya, ini merupakan sajian perdana dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Palapa.
Berdasarkan observasi medis sementara, para siswa didiagnosa mengalami keracunan makanan dengan gejala klinis berupa mual, muntah, diare, dan pusing hebat.
“Sebagian pasien dirawat di Puskesmas Huta Rakyat, dan sisanya dirujuk ke RSUD Sidikalang serta RS Serenapita,” tambah dr. Henry Manik.
Pihak berwenang kini tengah mendalami kualitas kontrol dari penyedia makanan guna memastikan penyebab pasti dari insiden yang menimpa ratusan pelajar ini.
Korban Tembus 170 Orang
Hingga Rabu (11/2/2026), jumlah pelajar yang harus dilarikan ke rumah sakit terus bertambah dan meluas ke sekolah lain.
Kepala Dinas Kesehatan Dairi, dr. Henry Manik, mengonfirmasi adanya lonjakan pasien. Jika sebelumnya tercatat 154 siswa dari SMK HKBP Sidikalang yang bertumbangan, kini belasan siswa dari SMK Arina menyusul masuk ke ruang perawatan.
“Kemarin 154 orang dari SMK HKBP. Hari ini masuk lagi 14 orang dari SMK Arina. Kami juga memantau adanya tambahan siswa dari SMA HKBP yang mulai masuk ke IGD hari ini,” ujar dr. Henry saat memantau langsung kondisi di rumah sakit.










