Pemerintah kota (Pemkot) Semarang, Jawa Tengah (Jateng) menegaskan komitmennya dalam mendorong pembangunan ekonomi yang ramah lingkungan.
Di tengah pertumbuhan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang semakin pesat pemerintah daerah menilai perlu adanya langkah konkret.
Agar aktivitas ekonomi masyarakat tidak menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan sekitar, penerapan prinsip ramah lingkungan kini menjadi bagian penting dalam strategi pemberdayaan UMKM di Kota Semarang.
Pertumbungan UMKM, dinilai memberikan kontribusi terhadap perekonomian. namun , aktivitas produksi yang tidak diiringi pengelolaan limbah berpotensi memicu persoalan lingkungan.
Kondisi tersebut mendorong pemkot Semarang mengambil peran lebih aktif untuk pengembangan UMKM berjalan secara berkelanjutan.
Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti menegaskan, pengelolaan lingkungan harus menjadi bagian dari pengembangan UMKM, terutama di kawasan usaha kuliner.
Menurutnya, keberhasilan pembangunan ekonomi perlu diimbangi dengan upaya menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan.
“Ini sejalan dengan upaya mewujudkan Kota Semarang yang sehat, produktif, dan berwawasan lingkungan,”ujar Agustina, melansir Antara, Selasa (32/1/2026).
Dia menyebut, penerapan prinsip ramah lingkungan pada sektor UMKM menjadi langkah untuk menjaga keseimbangan antara aktivitas ekonomi dan kelestarian lingkungan.
“Dengan dukungan fasilitas serta keterlibatan masyarakat, kegiatan usaha diharapkan dapat terus berjalan tanpa menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan,” terang Agustina.
IPAL Komunal Dukung Kampung Mangut Bandarharjo
Agustina menyebut pembangunan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) di Kampung Mangut, Kelurahan Bandarharjo, Kecamatan Semarang Utara, sebagai salah satu contoh penerapan pengelolaan lingkungan.
Kawasan tersebut dikenal sebagai pusat produksi mangut, kuliner khas Kota Semarang, dengan kegiatan pengolahan ikan yang berlangsung setiap hari oleh warga.
Sebagai langkah mengantisipasi dampak limbah cair dari aktivitas produksi, Pemkot Semarang membangun IPAL komunal yang berfungsi mengolah limbah sebelum dialirkan ke saluran lingkungan.
Keberadaan fasilitas tersebut dinilai penting agar kegiatan ekonomi masyarakat tetap berlangsung tanpa mencemari lingkungan sekitar.
Keberadaan IPAL dinilai penting dalam menjaga kebersihan lingkungan serta kesehatan warga di kawasan sentra UMKM.
“Bandarharjo ini adalah contoh bagaimana kampung tematik bisa tumbuh menjadi kekuatan ekonomi warga. Namun, pertumbuhan itu harus diiringi dengan pengelolaan lingkungan yang baik,” kata Agustina.
Partisipasi Warga Dukung Keberlanjutan Kampung Mangut
Pemkot kota Semarang mengapresiasi partisipasi aktif masyarakat dalam mengelola IPAL komunal di Kampung Mangut secara bersama-sama.
“Keterlibatan warga dinilai menjadi faktor penting dalam memastikan fasilitas pengolahan limbah dapat berfungsi secara optimal dan berkelanjutan,” ucap Agustina.
Keberhasilan infrastruktur lingkungan tersebut tidak hanya ditentukan oleh pembangunan fisik, tetapi juga oleh kesadaran dan komitmen masyarakat dalam merawat serta memanfaatkannya secara berkelanjutan.
Oleh karena itu, peran aktif warga menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam pengelolaan lingkungan di kawasan kampung tematik.
“Ke depan, Pemkot Semarang akan terus mendorong peningkatan kualitas kampung-kampung tematik, khususnya yang berbasis UMKM dan kuliner,” terang dia.
“Upaya tersebut dilakukan dengan melengkapi berbagai fasilitas pendukung, seperti sanitasi, pengolahan limbah, serta penataan lingkungan, guna mendukung aktivitas ekonomi warga yang ramah lingkungan,” tutup Agustina.

