Orang Tua Bersaksi Dampak Sekolah Rakyat: Anak Lebih Rajin Salat, Mandiri, dan Lepas dari Kecanduan Gadget

Diposting pada

Liputan6.com, Jakarta – Banyak orang tua yang menuturkan kemajuan positif dari keberadaan Sekolah Rakyat. Selain menjadi rajin salat, para siswa Sekolah Rakyat juga dilaporkan lebih mandiri dan lepas dari kecanduan bermain telepon seluler atau gadget.

“Banyak pesan mengharukan yang kami terima dari orang tua. Satu di antaranya, terima kasih anak kami lebih sering salatnya, bahkan mengajak kakak-kakaknya salat,” kata Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul), saat meresmikan 166 Sekolah Rakyat Terpadu yang tersebar di 34 provinsi, di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Senin (12/1).

Perubahan ke arah positif itu dirasakan para orang tua saat anak mereka berkesempatan pulang ke rumah setelah beberapa bulan tinggal dan belajar di Sekolah Rakyat.

Gus Ipul melanjutkan, banyak orang tua yang bercerita anak mereka bisa bangun pagi dan ikut membantu membereskan rumah tanpa disuruh. Selain itu, mereka juga tak lagi bergantung pada gawai.

“Terima kasih sekarang anak kami tidak lagi kecanduan handphone. Terima kasih sekarang anak kami tidak lagi menyendiri dan mau bermain dengan teman sekitar di rumah dan lebih percaya diri,” kata Gus Ipul mengutip curhatan dari para orang tua.

Murid Sekolah Rakyat dari Keluarga Tidak Mampu
Dia melanjutkan, siswa di Sekolah Rakyat adalah merupakan anak dari keluarga tidak mampu. Sebagian besar berasal dari keluarga sangat rentan. Sebanyak 60 persen orang tua mereka bekerja sebagai buruh, yakni buruh harian lepas, kuli bangunan, buruh tani, buruh nelayan, tukang ojek, tukang cari rumput, hingga pemulung.

“Mereka umumnya berpenghasilan tidak tetap dan 67 persen berpenghasilan di bawah Rp 1 juta per bulan,” kata Gus Ipul.

Selain itu, sebanyak 65 persen memiliki tanggungan keluarga di atas empat orang. Bahkan, lanjutnya, 454 siswa Sekolah Rakyat berasal dari mereka yang tidak atau belum pernah mengeyam bangku pendidikan.

Tercatat, sebanyak 298 siswa Sekolah Rakyat sebelumnya mengalami putus sekolah atau tidak lulus sekolah. Sebagian dari mereka bahkan sudah bekerja di usia yang sangat muda.

“Kami juga menemukan kenyataan yang lebih sunyi, banyak anak berasal dari keluarga dengan orang tua tunggal dan bahkan mengalami kekerasan dalam rumah tangga,” kata Gus Ipul.