Liputan6.com, Jakarta – Mudik lebaran 2026 akhirnya dimulai. Berjalan lebih cepat karena dipengaruhi kebijakan work from anywhere (WFA), pemudik mulai pulang kampung ke tempat masing-masing. Dari perspektif Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), pergerakan manusia dalam jumlah masif di satu waktu merupakan waktu peningkatan jumlah sampah.
“Tentunya dari kami dari KLH, kami fokus dengan pengelolaan sampahnya. Kita dengar akan ada peningkatan pemudik sekitar 20 persen di Stasiun Tegal sendiri dan bisa lebih. Artinya, sampah yang ditimbulkan akan naik. Jadi, kami harap dari para pemudik dan pengelola transportasi untuk menjaga fasilitas umum agar tetap bersih dari sampah,” kata Wakil Menteri Lingkungan Hidup (Wamen LH) Diaz Hendropriyono, dikutip dari siaran pers KLH, Minggu (15/3/2026).
Diaz memantau fasilitas pengelolaan sampah di sejumlah simpul transportasi, antara lain Terminal Klari Karawang, Stasiun Cirebon, Stasiun Tegal, dan Stasiun Semarang Tawang. Ia mengapresiasi sejumlah pengelola kawasan yang telah menyediakan fasilitas pengelolaan sampah yang baik, termasuk tempat sampah terpilah serta penyediaan dispenser air minum gratis bagi penumpang, seperti di Stasiun Cirebon dan Stasiun Tegal.
“Kami apresiasi sudah ada tempat pemilahan tong sampah yang memisahkan antara sampah organik, anorganik, dan B3. PT KAI sudah memilah sampah dari sumbernya, saya mohon kerja sama masyarakat pemudik agar tidak mencampur lagi sampah yang dibuang supaya tidak susah lagi di hilir untuk pengelolaan sampahnya,” ujar Diaz.
Lewat survei yang dijalankan Kementerian Perhubungan (Kemenhub), pada Lebaran 2026, diperkirakan ada 143,9 juta orang melakukan perjalanan. Angka ini lebih rendah dari survei tahun lalu dengan proyeksi 146,4 juta orang.

