Site icon Info Bet Gratis – Main Zeus Gacor

Luka Hati Sudrajat Penjual Es Kue Jadul yang Sulit Terobati

Pagi di Bojonggede masih enggan membuka mata. Udara dingin menyusup lewat celah pintu, seperti alarm alam yang memaksa Sudrajat beranjak dari pembaringan. Usianya tak lagi muda. Langkah kakinya pun tak secepat dulu. Namun waktu tak pernah memberi pilihan pada orang-orang seperti dia: rezeki harus dijemput, sebelum matahari benar-benar naik.

Sudrajat baru-baru ini ramai diperbincangkan di berbagai lini massa. Bukan cerita soal dagangan yang laris atau kisah hidupnya, tetapi karena Sudrajat dituduh warga dan aparat menjual es kue jadul berbahan spons. Sudrajat diamankan aparat, diduga dianiaya hingga kejadian lain yang menyisakan trauma setelahnya.

Jaket putih yang mulai kusam ia kenakan, tas pinggang kulit hitam diselempangkan. Sebuah topi menutup kepala, bersiap menghadapi terik yang nanti akan menyusul. Dari rumah sederhananya di kawasan padat Bogor, Sudrajat pamit pada istri dan kelima anaknya. Seperti hari-hari sebelumnya, ia berangkat membawa harapan yang sama: pulang dengan uang belanja, meski tubuh letih.

Langkah pertamanya selalu menuju Depok, ke tempat pembuatan es kue jadul. Di sana, ratusan potong es dimasukkan ke dalam boks sterofoam, dibungkus tas cokelat besar. Boks itu bukan sekadar wadah dagangan. Di pundaknya, es-es itu menandakan simbol tanggung jawab seorang ayah yang menafkahi keluarga.

Sudrajat sadar, hampir setengah abad usianya tak menghapus satu kenyataan: dia masih penopang utama rumah tangga. Nasib istri dan anak-anaknya bertumpu pada bahu yang kian ringkih.

Setiap hari, Sudrajat berjalan kaki puluhan kilometer. Dari Depok, dia menelusuri sejumlah lokasi di Jakarta seperti Kemayoran, Sentiong, hingga Kota Tua. Kakinya menjadi saksi jalan panjang yang tak selalu ramah.

“Kalau pagi saya ambil di Depok, jualannya ke Jakarta. Kalau di Kabupaten Bogor jarang pada jajan, lakunya di Jakarta,” tutur Sudrajat, Rabu (28/1/2026).

Sebanyak 150 potong es kue jadul dia bawa setiap hari. Satu potong dijual Rp 2.500. Di balik angka kecil itu, ada keringat yang harus ditebus mahal.

“Untungnya Rp1.500 per potong. Kalau laku semua, bisa sampai Rp 200 ribu,” katanya pelan.

Awal Mula Dituduh Jualan Es Berbahan Berbahaya

Namun rezeki tak selalu berpihak. Hujan kerap menjadi musuh sunyi yang memadamkan niat orang untuk jajan. “Kalau hujan ya kurang laku. Orang jarang keluar,” ujarnya singkat.

Semua itu masih sanggup dia hadapi. Hingga satu hari di Kemayoran, langkah Sudrajat terhenti bukan oleh lelah, melainkan oleh tuduhan. Dagangannya dituding mengandung bahan beracun.

“Baru kali ini selama 30 tahun jualan, saya dituduh beracun,” ucapnya, suaranya tertahan.

Tuduhan itu menghantam lebih keras dari terik matahari. Hatinya perih, meski wajahnya berusaha tenang. “Saya sudah bilang, esnya ambil di Depok. Saya cuma kuli,” katanya, matanya menyimpan getir yang sulit disembunyikan.

Penjelasan itu seolah tak didengar. Sudrajat harus menjalani interogasi oleh oknum TNI dan Polri yang bertugas sebagai Babinsa dan Bhabinkamtibmas. Di hadapan seragam dan kewenangan, ia hanya bisa pasrah.

“Saya ditanya-tanya, tertekan. Enggak bisa melawan. Padahal sudah saya jelasin,” ujarnya lirih.

Tekanan Berubah jadi Kekerasan

Tekanan berubah menjadi kekerasan. Dia mengaku mendapatkan pukulan dan tendangan mendarat di tubuhnya yang tak lagi muda. Sebuah selang air bahkan digunakan untuk menyabetnya.

“Saya dipukul di wajah, pakai tangan yang ada batu cincinnya. Disabet juga pakai selang,” kata Sudrajat, menunjuk wajahnya.

Ia dikurung di sebuah ruangan seperti pos keamanan, lalu dibawa ke kantor polisi. Hingga dini hari, tubuh dan batinnya sama-sama letih. Baru sekitar pukul 02.00, ia dipersilakan pulang setelah polisi memastikan es kue yang dijualnya tidak beracun.

“Sampai rumah jam empat pagi,” ucapnya.

Bantuan Modal Usaha dan Motor

Kini, di rumahnya yang tengah direnovasi melalui program Rutilahu Pemerintah Kabupaten Bogor, Sudrajat menyimpan luka yang belum sepenuhnya sembuh. Trauma membuatnya berpikir ulang untuk kembali memikul boks es.

“Saya pengen jualan di rumah aja. Mungkin gorengan,” katanya, seolah berbicara pada dirinya sendiri.

Perjalanan hidup Sudrajat akan selalu menyimpan peristiwa pahit itu. Namun di sela luka, harapan perlahan datang. Polres Metro Depok memberikan bantuan modal usaha dan sebuah sepeda motor.

“Dikasih motor sama bantuan modal. Mudah-mudahan bisa bantu saya jualan lagi,” ujarnya.

Di pundak Sudrajat, beban hidup memang berat. Tapi seperti es kue jadul yang ia jual, ada keteguhan sederhana yang tetap bertahan meski dunia tak selalu ramah.

Exit mobile version