Liputan6.com, Jakarta – Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) menilai longsornya gunungan sampah di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Kota Bekasi, Jawa Barat hingga menewaskan empat orang menjadi bukti kegagalan pemerintah dalam mengelola sampah.
Menurut Pengkampanye Urban Berkeadilan WALHI, Wahyu Eka Styawan, peristiwa tersebut bukan sekadar kecelakaan belaka, melainkan konsekuensi dari model pengelolaan sampah yang masih mempertahankan praktik kumpul, angkut, dan buang.
“Pendekatan pengelolaan sampah nasional masih bertumpu pada penumpukan di tempat pembuangan akhir yang terus meninggi dan semakin berbahaya. Sebelumnya TPA Cipayung juga telah longsor. Jika dihitung selama musim penghujan ini telah terjadi 3-5 kejadian longsor dalam kurun waktu 6 bulan saja,” kata dia dalam keterangan tertulis, dikutip Kamis (12/3/2026).
WALHI menyatakan Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) serta pemerintah daerah, khususnya Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta telah gagal dalam mengimplementasikan kebijakan pengelolaan sampah sehingga bencana serupa terus berulang.
Wahyu memandang kondisi longsornya gunung sampah di Bantargebang mencerminkan krisis yang lebih luas dalam pengelolaan sampah perkotaan di Indonesia.
Menurutnya, banyak tempat pembuangan akhir telah melampaui kapasitas daya tampung, sementara produksi sampah terus meningkat tanpa strategi pengurangan yang serius.
“Peristiwa ini mengulang luka lama yang seharusnya sudah menjadi pelajaran penting bagi negara. Dahulu ada tragedi longsor sampah besar dalam Leuwigajah yang menewaskan ratusan orang,” ucap Wahyudi
Lebih lanjut, Organisasi lingkungan tersebut juga menyoroti bahwa ratusan tempat pembuangan akhir di Indonesia masih menggunakan sistem open dumping.










