Liputan6.com, Jakarta – Program Kampung Hijau Energi. Upaya merawat bumi di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat dengan memperkuat ketahanan lingkungan melalui integrasi pertanian organik, peternakan, dan biogas. Sekaligus mendorong ekonomi warga serta mitigasi perubahan iklim berbasis komunitas.
Program kolaboratif ini dijalankan di sejumlah wilayah, antara lain Kabupaten Polewali Mandar (Polman) dan Pamboang, Kabupaten Majene di Sulawesi Barat, serta Simbang di Kabupaten Maros, Pinrang, dan Parepare.
Di lokasi-lokasi tersebut, warga menerapkan praktik siklus berkelanjutan yang saling terhubung dan efisien.
Tanaman organik yang sehat dimanfaatkan sebagai pakan ternak sapi. Selanjutnya, kotoran ternak diolah menggunakan teknologi biogas untuk menghasilkan energi api biru (biogas) dan pupuk organik cair.
Biogas digunakan untuk kebutuhan energi rumah tangga, sehingga mengurangi ketergantungan pada kayu bakar dan LPG, sementara pupuk cair kembali dimanfaatkan untuk menyuburkan tanaman.
Kolaborasi ini digagas oleh Yayasan Hadji Kalla, Lembaga Amil Zakat (LAZ) Yayasan Hadji Kalla, dan Yayasan/LSM Lingkungan Hidup Forum Komunitas Hijau. Selain meningkatkan ketahanan pangan dan ekonomi masyarakat, program ini juga berkontribusi langsung pada upaya mitigasi perubahan iklim, terutama dengan menekan emisi metana dari limbah ternak dan mendorong praktik pertanian rendah karbon.
Manager Program Lingkungan Yayasan Hadji Kalla, Sapril Akhmadi menjelaskan, pendekatan siklus tertutup menjadi kunci keberhasilan program.
“Program ini menciptakan ekosistem yang saling menguntungkan. Petani dan peternak memperoleh nilai tambah dari limbah, sekaligus berkontribusi pada pelestarian lingkungan,” ujarnya kepada Liputan6.com Jumat 23 Januari 2026.










