Liputan6.com, Washington D.C – Kurang dari 48 jam setelah Donald Trump menyatakan militer Amerika Serikat telah “mengalahkan dan menghancurkan Iran sepenuhnya”, situasi di lapangan menunjukkan gambaran berbeda. Sebuah jet tempur F-15E Strike Eagle ditembak jatuh di wilayah Iran, memicu operasi penyelamatan berisiko tinggi oleh militer AS.
Dalam insiden tersebut, dua awak pesawat melontarkan diri. Satu di antaranya berhasil ditemukan, sementara satu lainnya masih dalam pencarian. Operasi penyelamatan turut menghadapi ancaman serius setelah Iran dilaporkan menembaki dua helikopter UH-60 Black Hawk dan satu pesawat tempur yang terlibat dalam misi tersebut.
Perkembangan ini menjadi tantangan besar bagi narasi kemenangan yang disampaikan Trump. Dalam pidatonya sebelumnya, ia mengeklaim Iran telah kehilangan kemampuan pertahanan udara.
“Mereka tidak memiliki peralatan anti-pesawat. Radar mereka 100% hancur. Kita tak terhentikan sebagai kekuatan militer,” ujarnya, dikutip dari NBC, Sabtu (4/4/2026).
Namun, sejumlah pejabat AS menyebut kemampuan militer Iran masih signifikan. Sekitar setengah dari peluncur rudal balistik Iran dilaporkan masih berfungsi, sementara ribuan drone serang masih tersedia. Bahkan, sebagian persenjataan disebut tersimpan aman di bunker bawah tanah dan tetap operasional.
Peneliti senior di Stimson Center, Kelly Grieco, menilai Iran masih mampu mempertahankan intensitas serangan dalam jangka waktu tertentu. Ia juga menyebut Teheran semakin mahir menyembunyikan aset militernya dari serangan.
Insiden jatuhnya F-15E ini menjadi yang pertama dalam beberapa dekade di mana jet tempur AS ditembak jatuh oleh musuh. Selain itu, dalam insiden terpisah, pesawat A-10 Thunderbolt II juga dilaporkan jatuh di wilayah udara Kuwait, meski pilotnya berhasil selamat.
Sejak pidato Trump yang menyebut kemenangan cepat dan menentukan, Iran dilaporkan telah meluncurkan sedikitnya 50 rudal balistik dan lebih dari 150 drone ke target AS dan sekutunya di Timur Tengah. Selain itu, setidaknya 16 drone MQ-9 Reaper telah ditembak jatuh sejak awal konflik.
Di tengah eskalasi ini, Trump dilaporkan mengumpulkan tim keamanan nasionalnya di Gedung Putih untuk memantau perkembangan terbaru. Namun hingga kini, belum ada pernyataan resmi tambahan dari pihak Gedung Putih terkait insiden tersebut.
Perbedaan antara klaim dominasi militer AS dan realitas di lapangan kini menjadi sorotan, sekaligus menandai potensi titik balik dalam konflik yang memasuki bulan kedua tersebut.

