Liputan6.com, Jakarta – Senin pagi terasa lebih berat di Karang Anyar, Dusun Cabang Ruan, Kecamatan Batu Ampar, Kabupaten Kubu Raya Kalimantan Barat. Sungai Karang Anyar tampak tenang di permukaan, namun menyimpan kecemasan mendalam bagi warga.
Empat hari berlalu sejak Nuriman, nelayan sekaligus ayah dua anak, tak kembali dari aktivitas memancing. Waktu seakan berhenti, harapan bertahan, doa terus berlayar mengikuti arus sungai keruh.Kepala Dusun Cabang Ruan, Mus, berdiri di tepi sungai sembari menatap air. Wajahnya menyimpan kegelisahan kolektif warga. Dia menyampaikan dugaan awal berdasar pengalaman lapangan.
“Adanya dugaan korban diterkam buaya. Karena di lokasi kejadian sebelumnya beberapa kali buaya terlihat mencoba menyerang warga, meski tidak menimbulkan korban jiwa,” kata Mus Senin (12/1/2026).
Pernyataan itu bukan sekadar asumsi. Sungai Karang Anyar dikenal sebagai wilayah lintasan buaya muara. Warga kerap melihat kemunculan reptil besar itu saat senja. Sebagian memilih diam, sebagian lain pasrah, sebab sungai tetap menjadi nadi kehidupan.
Nuriman pergi memancing seperti hari biasa. Ia paham risiko. Sungai memberi ikan, sungai pula memberi ancaman. Namun kebiasaan panjang sering menumpulkan kewaspadaan. Hingga senja turun, Nuriman tak kunjung pulang.
Laporan warga diterima, respons cepat pun dilakukan. Unit Siaga SAR Kabupaten Kayong Utara mengerahkan tim rescue menuju lokasi. Satu unit Rigid Inflatable Boat melaju membelah sungai. Perahu itu membawa peralatan evakuasi, perlengkapan medis, alat navigasi, perangkat water rescue, serta alat pelindung diri lengkap.
Mesin perahu menderu di antara kabut pagi. Setiap anggota tim menyadari satu fakta pahit. Misi pencarian di wilayah habitat buaya bukan perkara mudah. Risiko mengintai setiap meter perjalanan.
Kepala Kantor SAR Pontianak, I Made Junetra, menegaskan komitmen tim.
“Memasuki hari keempat pencarian, tim SAR gabungan masih melakukan upaya pencarian terhadap korban. Area pencarian telah diperluas ke beberapa sektor hilir dan hulu sungai, namun hingga saat ini korban belum ditemukan,” ujarnya.
Perluasan sektor pencarian bukan keputusan ringan. Arus sungai deras dapat membawa tubuh korban jauh dari titik awal. Penentuan Last Known Position menjadi dasar strategi, dipadukan informasi warga sekitar.
Sejak hari pertama, tim SAR menjalankan tahapan sistematis. Pengumpulan keterangan saksi, pemetaan alur sungai, penyisiran permukaan air, pemantauan visual bantaran, hingga koordinasi intensif bersama potensi SAR lokal terus berlangsung tanpa jeda berarti.










