Liputan6.com, Jakarta – Desk Disaster Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Region Sumatera bersama WALHI Aceh dan Kelompok Perempuan Peduli Lingkungan (KOPPEDULI) menemukan bencana ekologis di Aceh berkaitan erat dengan kerusakan hutan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Jambo Aye.
Berdasarkan data tahun 2024, seluas 1.100 hektare hutan di DAS Jambo Aye di Provinsi Aceh, di Sumatera bagian utaramengalami kerusakan.
Selain itu, pembukaan lahan dan dugaan aktivitas logging perseorangan di sekitar areal Hak Guna Usaha (HGU), termasuk HGU Tualang Raya, semakin memperparah kondisi tersebut.
Menurut pantauan citra satelit pada Januari – Mei 2025, terungkap adanya pembukaan lahan secara masif di kawasan curam yang terhubung langsung dengan anak sungai menuju Sungai Jambo Aye.
Tim Desk Disaster WALHI Region Sumatera bersama WALHI juga menegaskan, banjir yang terjadi di DAS Jambo Aye merupakan bencana ekologis yang penyebabnya begitu kompleks.
Rangkaian perusakan lingkungan, ketimpangan pembangunan, serta kegagalan negara melindungi lingkungan hidup dan keselamatan rakyat menjadi penyebab peristiwa ini terjadi.
Masalah ini ditandai dengan adanya pembiaran ekspansi perkebunan, aktivitas logging, dan lemahnya pengawasan HGU.
Koordinator Desk Disaster WALHI Region Sumatera untuk Aceh Wahdan menegaskan, banjir besar di Kabupaten Aceh Timur pada akhir tahun lalu merupakan fenomena yang tak terpisahkan dari kerusakan hulu DAS Jambo Aye
“Banjir besar di Desa Sejudo dan sejumlah desa di Kecamatan Pante Bidari, Kabupaten Aceh Timur, pada akhir November 2025 adalah bencana ekologis yang tidak terpisahkan dari kerusakan wilayah hulu DAS Jambo Aye dan kegagalan negara menjalankan mandat konstitusi,” ujar Wahdan, dilansir Liputan6.com dari laman resmi Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) www.walhi.or.id, Selasa (13/1/2026).










