Lombok – Putri Mahkota Swedia Putri Mahkota Victoria mengaku terkesan dengan kearifan masyarakat adat Bayan dalam menjaga hutan, sumber mata air, sekaligus warisan budaya yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.
Hal tersebut disampaikan Putri Mahkota Victoria saat mengunjungi Desa Adat Karang Bajo Bayan, Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat (NTB), dalam kunjungannya sebagai Duta Kehormatan UNDP untuk Pembangunan Berkelanjutan.
Di desa adat tersebut, Putri Mahkota Victoria melihat langsung bagaimana masyarakat menjaga keseimbangan antara alam, budaya, dan kehidupan sehari-hari. Ia meninjau kawasan Mata Air Mandala yang berada di kawasan hutan adat dan mengikuti kegiatan penanaman pohon.
Putri Mahkota Victoria juga berdialog dengan masyarakat untuk mendengar pengetahuan serta kearifan lokal yang terus diwariskan antar-generasi.
“Apa yang bapak dan ibu lakukan di sini sangat penting, bukan hanya bagi kehidupan masyarakat, tetapi juga bagi upaya menjaga sumber daya alam yang ada,” ujar Putri Mahkota Victoria dalam sesi dialog bersama masyarakat.
Ia menilai pengetahuan lokal yang terus diwariskan memiliki arti penting bagi keberlanjutan kehidupan masyarakat di masa mendatang.
“Mendengar pengetahuan dan kearifan lokal yang terus diwariskan kepada generasi mendatang merupakan sesuatu yang sangat penting,” katanya.
Hutan Bukan Sekadar Pepohonan
Bagi Masyarakat Adat Bayan, hutan memiliki hubungan erat dengan kehidupan sehari-hari. Air dari kawasan hutan membantu mengairi sawah dan ladang, sementara hutan juga menjadi bagian penting dari identitas budaya dan tradisi masyarakat.
Karena itu, bagi masyarakat Karang Bajo, menjaga hutan bukan sekadar upaya mempertahankan pepohonan. Pelestarian hutan juga berarti menjaga sumber air, mata pencaharian keluarga, serta identitas budaya yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Pemekel Karang Bajo Nikrana mengatakan hubungan masyarakat adat dengan alam telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Bayan.

