Integritas, Likuiditas dan Ekonomi Hijau jadi Prioritas Pasar Modal Indonesia pada 2026

Diposting pada

Memasuki tahun perdagangan 2026, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menetapkan arah kebijakan strategis yang komprehensif bagi pasar modal Indonesia.

Dalam agenda besar tahun ini, OJK menitikberatkan fokusnya pada tiga pilar fundamental, yakni peningkatan integritas pasar, pendalaman likuiditas perdagangan, serta akselerasi ekonomi hijau melalui penguatan ekosistem Bursa Karbon agar memiliki kredibilitas berstandar internasional.

Penegasan mengenai peta jalan ini disampaikan di hadapan jajaran pejabat Kementerian Keuangan, manajemen Bursa Efek Indonesia (BEI), Self-Regulatory Organization (SRO), serta anggota DPR RI dalam momentum Seremoni Pembukaan Perdagangan BEI Tahun 2026.

Langkah strategis ini diambil sebagai respons atas dinamika ekonomi global yang menuntut pasar keuangan domestik untuk tidak hanya tumbuh secara kuantitas, tetapi juga memiliki fondasi yang kokoh dan berkelanjutan. 

Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar dalam kesempatan tersebut menegaskan komitmen lembaganya untuk terus merajut sinergitas yang solid antar-pemangku kepentingan. Hal ini dinilai krusial untuk memastikan pasar modal Indonesia mampu menjadi motor penggerak ekonomi yang inklusif. 

Menurut Mahendra, kerja sama lintas sektor tidak bisa ditawar lagi demi menjaga daya tahan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global.

Dalam pidatonya, Mahendra menekankan pentingnya peran komite gabungan dalam menjaga ekuilibrium sektor keuangan.

“Sinergi dan kolaborasi Komite Kebijakan Sektor Keuangan (KSSK) tentu menjadi prioritas utama dalam menjaga stabilitas dan meningkatkan peran sektor keuangan mendorong pertumbuhan perekonomian nasional,” ujar Mahendra, dikutip dari Antara, Sabtu (10/1/2026).

Pernyataan ini menjadi sinyal kuat bahwa kebijakan pasar modal di tahun 2026 akan sangat selaras dengan kebijakan fiskal dan moneter makroekonomi untuk menciptakan iklim investasi yang kondusif bagi seluruh pelaku pasar.

Penertiban Finfluencer dan Integritas Pasar

Salah satu sorotan utama dalam upaya menjaga integritas pasar adalah perlindungan terhadap investor minoritas dan ritel.

OJK menyadari bahwa perkembangan teknologi informasi telah melahirkan fenomena baru berupa pemengaruh keuangan atau yang dikenal sebagai finfluencer

Untuk itu, OJK berkomitmen menegakkan aspek perilaku pasar (market conduct) yang lebih ketat, termasuk pengawasan terhadap aktivitas para influencer keuangan tersebut.

Saat ini, OJK tengah mematangkan aturan baru yang secara spesifik akan mengatur sepak terjang finfluencer. Regulasi ini sedang dalam tahap finalisasi dan ditargetkan dapat diterbitkan pada pertengahan tahun 2026.

Dalam aturan tersebut, OJK akan memberikan penekanan serius pada aspek kapabilitas, transparansi, serta kepatuhan perizinan. 

Tujuannya sangat jelas, yakni untuk mendukung literasi investasi yang bertanggung jawab sehingga masyarakat tidak terjebak dalam rekomendasi investasi yang menyesatkan atau tidak berdasar.

Tantangan Kapitalisasi dan Ketertinggalan Indeks LQ45

Di sisi lain, Mahendra juga memaparkan evaluasi mengenai posisi pasar modal Indonesia dibandingkan dengan negara-negara tetangga. Ia menilai masih terdapat ruang yang sangat lebar untuk mengakselerasi pertumbuhan pasa.,

Meningkatnya kontribusi pasar saham Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) masih relatif tertinggal. Tercatat, kontribusi pasar saham RI terhadap PDB baru mencapai 72 persen.

Angka ini masih berada di bawah India yang mencapai 140 persen, Thailand sebesar 101 persen, serta Malaysia di angka 97 persen.

Selain tantangan kapitalisasi, Mahendra juga menyoroti adanya disparitas kinerja antara indeks gabungan dengan saham-saham berkapitalisasi besar (big cap). Sepanjang tahun berjalan (year to date/ytd) di akhir 2025.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mampu tumbuh impresif sebesar 22,13 persen. Namun, pertumbuhan ini tidak diikuti secara merata oleh saham-saham unggulan.

“Indeks LQ45 yang berisi saham-saham perusahaan besar dan menjadi rujukan investasi Fund Manager global maupun domestik hanya tumbuh 2,41 persen, jauh di bawah kenaikan IHSG,” tutur Mahendra.

Rekor dan Capaian Transaksi Tahun 2025Meskipun terdapat tantangan, kinerja pasar modal sepanjang tahun 2025 mencatatkan sejarah manis. IHSG berhasil menutup tahun di level 8.646,94 poin, atau menguat 22,13 persen secara tahunan. 

Bahkan, pasar saham Indonesia berhasil menorehkan rekor tertinggi sepanjang masa atau All Time High (ATH) sebanyak 24 kali sepanjang tahun 2025.

Gairah pasar juga terlihat dari sisi aktivitas penghimpunan dana dan transaksi harian. Hingga 31 Desember 2025, tercatat ada 215 penawaran umum dengan total nilai emisi mencapai Rp275 triliun, yang di dalamnya termasuk 18 emiten baru dengan nilai IPO sebesar Rp14,41 triliun. 

Likuiditas pasar pun semakin menebal, terlihat dari Rata-rata Nilai Transaksi Harian (RNTH) yang melonjak menjadi Rp18,1 triliun, naik signifikan dibandingkan tahun 2024 yang hanya Rp12,9 triliun. 

Peningkatan ini sejalan dengan pertumbuhan jumlah investor (Single Investor Identification/SID) yang menembus angka 20,2 juta atau naik 36 persen, di mana demografi investor masih didominasi oleh generasi muda berusia di bawah 40 tahun.