Ini Hitung-hitungan Harga BBM Jika Minyak Dunia Terus Melambung Tinggi

Diposting pada

Liputan6.com, Jakarta – Melonjaknya harga minyak dunia imbas konflik geopolitik di Timur Tengah berdampak langsung pada harga bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri. Jika harga minyak tak kunjung turun, maka kenaikan harga BBM akan sulit dihindari demi menjaga stabilitas fiskal dan menghindari tekanan lebih dalam terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Ekonom Hendry Cahyono mengatakan, pemerintah harus segera mengambil langkah antisipasi jika harga minyak dunia tak kunjung turun. Hal ini pernah terjadi di Indonesia pada 2013 lalu di mana harga minyak dunia sempat menembus juga menembus USD 100 per barel dan harga rata-rata minyak mentah Indonesia (Indonesia Crude Price/ICP) USD 114 per barel.

“Pada ahun 2013 ICP sempat naik USD 114 per barel, tapi waktu itu kebijakan fiskal cepat dan merespons kenaikan BBM,” kata dia kepada Liputan6.com, Sabtu (28/3/2026).

Hendry memberi gambaran, dengan asumsi harga minyak berada di kisaran USD 85–USD 92 per barel, diperkirakan harga Pertalite bisa naik pada rentang 5%–10% atau menjadi Rp 10.500 hingga Rp 11.000 per liter dari harga sebelumnya Rp 10.000.

Sedangkan, harga solar subsidi diperkirakan naik ke kisaran Rp 7.150 hingga Rp 7.500 per liter dari harga sebelumnya yakni Rp 6.800. Dalam skenario ini, defisit APBN diperkirakan masih berada di ambang batas aman, yakni mendekati 3 persen terhadap PDB.

Namun, jika harga minyak dunia menembus di atas 100 dolar AS per barel dalam waktu yang berkepanjangan, maka kenaikan harga BBM berpotensi lebih tinggi. Harga Pertalite dapat naik 15–20 persen menjadi Rp 11.500 hingga Rp 12.000 per liter, sedangkan solar naik ke kisaran Rp 7.800 hingga Rp 8.200 per liter.

“Pada kondisi ini, defisit APBN bisa melampaui 3 persen atau sekitar 3,6 persen PDB jika tidak ada penyesuaian harga,” ujar Hendry.