Liputan6.com, Jakarta – Harga emas mencatat kenaikan pada perdagangan Jumat dan bersiap menutup pekan dengan penguatan. Sentimen ini dipicu melemahnya dolar Amerika Serikat (AS) setelah tercapainya gencatan senjata antara AS dan Iran.
DIkutip dari CNBC, Sabtu (11/4/2026), harga emas spot naik 0,3% menjadi USD 4.778,89 per ons. Sepanjang pekan ini, harga emas telah menguat lebih dari 2%. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS justru turun tipis 0,3% ke level USD 4.804,00.
Pelaku pasar masih mencermati seberapa kuat gencatan senjata tersebut akan bertahan serta dampaknya terhadap arah kebijakan suku bunga ke depan.
Trader logam independen, Tai Wong, mengatakan bahwa pembeli emas mulai kembali menguasai pasar secara perlahan.
“Pembeli emas secara hati-hati mulai kembali mengendalikan narasi minggu ini dengan pola kenaikan bertahap setiap hari, didukung oleh gencatan senjata yang masih bersifat sementara,” ujarnya.
Ia menambahkan, level USD 5.000 akan menjadi titik krusial bagi pergerakan emas.
“Perkirakan akan ada pertarungan signifikan menjelang level USD 5.000. Jika mampu menembus kembali, hal itu bisa memicu reli bullish baru,” kata Wong.
Meski demikian, gencatan senjata yang baru berjalan dua hari tersebut belum sepenuhnya meredakan ketegangan di kawasan Timur Tengah. Blokade Selat Hormuz masih berlangsung, dan konflik paralel antara Israel dan sekutu Iran di Lebanon juga belum mereda.










