Liputan6.com, Jakarta – Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) kubu Sujahri Somar menyoroti krisis lingkungan dan bencana yang terjadi di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk di Sumatra, bukan hanya sekedar peristiwa alam tapi ada karena ketimpangan relasi antara manusia dan kebijakannya.
“Bencana ekologis hari ini adalah cermin dari pembangunan yang mengabaikan daya dukung lingkungan dan keselamatan rakyat. Ketika eksploitasi dilegalkan atas nama investasi dan pertumbuhan, rakyat kecil selalu menjadi korban pertama dan terdengar paling terakhir,” kata Sujahri dalam keterangannya, Kamis (15/1/2026).
Pihaknya menolak narasi bencana adalah takdir. “Bencana (yang terjadi belakangan ini) adalah hasil dari pilihan (kebijakan),” ungkap Sujahri.
Tak hanya menggalang dan menyalurkan donasi bagi korban terdampak bencana khususnya di Sumatra, lanjut dia, Bagi GMNI, solidaritas bukan aksi simbolik, melainkan bentuk paling awal dari perjuangan ideologis.
Menurut Sujahri, Marhaenisme hidup ketika keberpihakan diwujudkan dalam tindakan. Karena itu. GMNI menegaskan komitmennya untuk terus berdiri di sisi rakyat terdampak krisis lingkungan.
“Bukan hanya saat bencana bencana menjadi headline, tetapi juga dalam advokasi jangka panjang terhadap kebijakan pembangunan yang adil dan berkelanjutan,” jelas dia.
Sikap GMNI
Menurut Sujahri, sikap GMNI dewasa ini sudah jelas, bagaimana keadilan sosial harus didapatkan dalam menangani bencana lingkungan.
“Krisis lingkungan adalah isu kemanusiaan dan keadilan sosial. Dan dalam setiap krisis, GMNI memilih untuk hadir, berpihak, dan bertindak,” kata dia.

