Liputan6.com, Jakarta – Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia (IATMI) menilai ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran mulai memberi tekanan pada sektor energi global. Namun di Indonesia, dampaknya terhadap harga barang dan bahan bakar minyak (BBM) masih relatif tertahan, sebagian karena momentum libur Lebaran yang menahan gejolak konsumsi dan harga.
Sekretaris Jenderal IATMI, Hadi Ismoyo menyebutkan, hingga saat ini kenaikan biaya operasional belum signifikan dirasakan pelaku usaha. Meski demikian, ia mengakui kenaikan terbatas pada BBM non-subsidi, berkisar Rp 500 hingga Rp 1.000 per liter.
“Belum signifikan (naik harga BBM), dan lebih banyak di-drive oleh Lebaran. Secara resmi BBM Subsidi belum naik,” ujarnya kepada Liputan6.com, Rabu (25/3/2026).
Menurut Hadi, dua komponen biaya yang paling terdampak adalah sektor transportasi terutama logistik. Serta industri berbasis energi seperti kilang dan petrokimia yang bergantung pada minyak mentah dan turunannya.
Namun, dampak tersebut belum sepenuhnya diteruskan ke konsumen. Pelaku usaha masih menahan kenaikan harga, salah satunya karena faktor Ramadan dan belum adanya kenaikan BBM subsidi.
“Akan signifikan terasa kalau BBM Subsidi dinaikkan. So far pemerintah sudah komit untuk tidak menaikkan BBM Subsidi sampai waktu tertentu,” ucapnya.
Hadi memperkirakan, jika tekanan berlanjut, kelompok barang yang paling cepat mengalami kenaikan adalah sembako dan barang impor. Keduanya sangat sensitif terhadap biaya logistik dan fluktuasi harga energi global.
Dalam situasi saat ini, pelaku usaha cenderung menahan margin keuntungan demi menjaga hubungan jangka panjang dengan konsumen. Strategi ini dinilai efektif terutama di tengah momen Ramadan, ketika daya beli masyarakat menjadi perhatian utama.
Hadi memperkirakan pelaku usaha dapat menahan tekanan biaya ini hingga sekitar enam bulan ke depan. Atau, sampai ada kebijakan penyesuaian harga BBM subsidi.

