Buaya Karang Anyar Menyisakan Duka: Nuriman Tak Pulang, Pencarian Dihentikan

Diposting pada

Nuriman berusia 48 tahun berangkat memancing seperti hari biasa. Aktivitas sederhana itu berubah menjadi kabar duka. Sungai Karang Anyar, jalur hidup warga pesisir, mendadak menyimpan misteri.

Dugaan tenggelam bercampur ancaman buaya memperberat situasi. Sejak laporan awal, tim SAR bergerak cepat. Perahu karet menyisir alur air. Mata relawan menatap bantaran. Warga membantu dengan naluri lokal.

Kepala Kantor SAR Pontianak I Made Junetra memimpin koordinasi. Sejak hari pertama, strategi diterapkan secara berlapis. Penyisiran hulu hingga hilir dilakukan. Analisa arus dipadukan informasi lapangan. Setiap titik berpotensi diperiksa. Hingga Kamis sore, hasil tetap nihil.

“Memasuki hari ketujuh operasi pencarian, tim SAR gabungan telah memperluas area pencarian di sepanjang alur sungai, baik ke arah hulu maupun hilir, serta melakukan pemantauan di titik titik berpotensi menjadi lokasi korban. Namun hingga saat ini korban masih belum ditemukan,” ujar I Made Junetra, Jumat, 16 Januari 2026.

Keputusan penghentian bukan langkah ringan. Evaluasi melibatkan keluarga serta seluruh unsur SAR. Jam menunjukkan 16.00 WIB saat kesimpulan diambil.

Operasi dihentikan. Status korban dinyatakan hilang. Prosedur standar diterapkan. Pintu pencarian tetap terbuka bila muncul informasi baru.

“Dengan hasil nihil dan tidak ditemukannya tanda tanda keberadaan korban, maka operasi SAR dihentikan dan korban atas nama Nuriman 48 dinyatakan hilang. Apabila di kemudian hari terdapat informasi atau tanda tanda baru, operasi SAR akan dibuka kembali,” jelas I Made Junetra.

Keputusan itu menutup aktivitas lapangan. Personel kembali ke satuan. Perahu ditarik. Sungai kembali sunyi. Bagi keluarga, sunyi itu terasa panjang.