Liputan6.com, Jakarta – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menekankan urgensi penetapan wilayah Sombori-Matarombeo-Tangkelemboke-Mekongga di Sulawesi Tenggara (Sultra) sebagai kawasan konservasi nasional dan warisan dunia.
Upaya ini dinilai sebagai langkah strategis guna mengatasi permasalahan krisis iklim, deforestasi, serta meningkatnya risiko bencana ekologis di Kawasan Wallacea.
Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Ekologi BRIN Hendra Gunawan, dalam Konferensi Wallacea Expeditions memberikan usulan mengenai pembentukan kawasan konservasi berbasis lanskap.
“Pembentukan kawasan konservasi berbasis lanskap seluas sekitar 6.000 km², mencakup wilayah Sombori, Matarombeo, Tangkelemboke, dan pegunungan Mekongga di Sulawesi Tenggara sebagai Taman Nasional sekaligus warisan dunia,” usul Hendra, dilansir dari laman resmi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) www.brin.go.id, Selasa (6/1/2026).
“Pengusulan Taman Nasional dan Warisan Dunia merupakan langkah preventif berbasis bukti ilmiah, bukan keputusan politis,” tambahnya.
Menurutnya, kawasan Wallacea telah kehilangan sekitar 1,37 juta hektare hutan dalam 10 tahun terakhir, dan wilayah Sulawesi menjadi kawasan yang terdampak signifikan.
Pegunungan Mekongga (±258.519 ha) menjadi salah satu kawasan konservasi yang diusulkan.
Menurut Hendra, wilayah ini memiliki peran ekologis krusial sebagai hulu 3 DAS dan 30 sungai yang menopang sistem hidrologi regional. Selain itu, kawasan ini juga kaya akan ekosistem hutan yang langka.
“Kawasan ini juga menyimpan bentang ekosistem langka, mulai dari hutan sub-montana hingga sub-alpin, yang menjadi habitat berbagai satwa endemik Sulawesi seperti anoa, babi rusa, rangkong Sulawesi, hingga tarsius,” kata Hendra.
Hasil riset International Cooperative Biodiversity Group (ICBG) dan rangkaian Wallacea Scientific Expedition Series diyakini telah mengungkap potensi berbagai spesies mamalia, flora, serangga, dan ratusan mikroorganisme, yang diduga sebagai jenis baru dan belum dijelaskan secara ilmiah.










