Liputan6.com, Jakarta – Barcelona menelan kekalahan telak 0-4 dari Atletico Madrid pada leg pertama semifinal Copa del Rey, Jumat (13/2) dini hari WIB di Stadion Metropolitano. Hasil ini langsung mengguncang ambisi Blaugrana di kompetisi domestik.
Kekalahan tersebut mungkin terasa lebih menyakitkan dibanding tersingkirnya mereka dari Liga Champions UEFA musim lalu. Saat itu Barcelona tetap tampil kompetitif, sedangkan kali ini mereka tak berdaya sepanjang laga.
Sejak menit awal, Atletico tampil dominan dan agresif. Barcelona gagal mengimbangi intensitas permainan tuan rumah dan sudah tertinggal empat gol bahkan sebelum turun minum.
Walau tak kebobolan lagi di babak kedua, skor akhir tidak mencerminkan sepenuhnya tekanan yang mereka alami. Kini, jalan menuju final Copa del Rey tampak menanjak curam dan menuntut keajaiban di leg kedua.
Laga di Metropolitano menjadi salah satu performa terburuk Barcelona di bawah Hansi Flick. Tim kehilangan kontrol, disiplin posisi, serta ketajaman dalam transisi menyerang.
Atletico Madrid tampil dengan intensitas dua kali lipat. Mereka menutup ruang dengan cepat, memenangkan duel-duel penting, dan memanfaatkan celah di lini pertahanan tinggi Barcelona.
Serangan balik cepat tuan rumah berkali-kali membongkar struktur pertahanan Blaugrana. Koordinasi lini belakang buruk, sementara lini tengah gagal memutus alur permainan lawan.
Di sisi lain, Barcelona kesulitan membangun serangan. Operan sering terputus, tekanan lawan sulit dilewati, dan permainan kombinasi yang biasanya menjadi identitas tim nyaris tak terlihat.










