Istanbul – Banjir dahsyat melanda Istanbul, Turki, hingga menewaskan empat orang. Menteri Dalam Negeri Turki Mustafa Ciftci menyebut bencana tersebut sebagai banjir terparah yang melanda kota terbesar di Turki itu sejak 1942 atau lebih dari 80 tahun terakhir.
Dikutip dari APNews, Jumat (16/10/2026), Istanbul, yang dihuni sekitar 16 juta penduduk, diguyur hujan dengan intensitas tinggi.
Menurut kantor berita Anadolu yang dikelola pemerintah, curah hujan selama 48 jam hingga Kamis pagi melampaui rata-rata historis gabungan untuk September dan Oktober.
“Kami berusaha sebaik mungkin untuk membantu warga kami, tetapi kami juga sedang mengalami bencana banjir terbesar sejak 1942,” kata Ciftci saat mengunjungi salah satu wilayah yang terdampak paling parah akibat hujan deras pada Rabu malam.
Korban tewas bertambah setelah jasad seorang pria berusia 66 tahun ditemukan pada Jumat di bawah sebuah jembatan di distrik Sariyer, Istanbul. Sebelumnya, tiga orang dilaporkan meninggal dunia, termasuk seorang remaja yang tersengat listrik saat badai melanda.
Banjir menyebabkan rumah-rumah dan tempat usaha terendam. Air juga menggenangi jalanan dan taman di berbagai wilayah kota. Sejumlah kendaraan terseret arus, bahkan banyak di antaranya menumpuk di bagian bawah lereng.
Sebelum penemuan jasad pria tersebut pada Jumat, Ciftci mengatakan kepada wartawan di kawasan Ayazaga, distrik Sariyer, bahwa masih ada empat orang yang dilaporkan hilang.
Ia menyebut pihak berwenang telah menerima 9.850 laporan mengenai kerusakan dan berbagai persoalan lain terkait banjir. Sebanyak 46.000 personel dikerahkan untuk membersihkan puing-puing serta membantu warga di Istanbul.
Menteri Lingkungan Hidup, Urbanisasi, dan Perubahan Iklim Turki Murat Kurum turut mendampingi Ciftci mengunjungi kawasan yang terdampak banjir.
Menanggapi kekhawatiran bahwa pembangunan perkotaan di dekat aliran air memperparah banjir, Kurum mengatakan penanganan persoalan tersebut merupakan hal yang penting.
Kurum, yang akan memimpin konferensi perubahan iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) COP31 bulan depan di Antalya, Turki, juga mengaitkan banjir tersebut dengan dampak perubahan iklim.
“Memerangi perubahan iklim bukanlah pilihan, melainkan kebutuhan,” kata Kurum.warganet88










