Jakarta — Banjir dan longsor yang melanda tiga provinsi di Sumatera—Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat—menyebabkan kerusakan infrastruktur parah serta menimbulkan korban jiwa dalam jumlah besar. Bencana yang terjadi sejak pertengahan November 2025 ini juga mengisolasi ribuan warga dan melumpuhkan sejumlah fasilitas umum.
Di Aceh, 250 meter ruas jalan provinsi di lintas barat kawasan Desa Panton Pange, Nagan Raya, putus total akibat terjangan banjir. Aspal terkelupas dan satu jembatan kecil penghubung antarkecamatan ikut rusak, membuat ratusan kepala keluarga terisolasi. Selain itu, sebanyak 799 site komunikasi atau 1,42 persen dari total jaringan di Aceh dilaporkan lumpuh.
Di Sumatera Barat, banjir merusak fasilitas air bersih milik PDAM serta jembatan di sejumlah wilayah. Bencana mencakup 13–14 kabupaten/kota, termasuk Padang, Padang Pariaman, Pesisir Selatan, Agam, dan Bukittinggi. Pemerintah provinsi menetapkan status tanggap darurat.
Sementara di Sumatera Utara, banjir dan longsor melanda Sibolga, Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, dan Tapanuli Selatan. Infrastruktur jalan dan jembatan rusak, sementara ribuan warga terpaksa mengungsi.
Kepala BNPB Suharyanto melaporkan bahwa hingga Jumat (28/11), korban meninggal di Sumut mencapai 116 orang dengan 42 masih hilang. Di Sumbar tercatat 23 meninggal, 12 hilang, dan 3.900 KK mengungsi. Adapun Aceh mencatat 35 korban meninggal, 25 hilang, dan 4.846 keluarga mengungsi.
Pemerintah pusat bersama pemerintah daerah terus mengerahkan alat berat dan tim gabungan untuk membuka akses yang terputus serta mempercepat penanganan darurat.









