Liputan6.com, Jakarta – Indonesia diminta mengimpor komoditas minyak dan gas bumi (migas) dari Amerika Serikat (AS) sesuai kesepakatan dagang kedua negara. Nantinya, sumber impor dari Asia akan dipangkas paling banyak. Hal tersebut diungkap Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.
Adapun, Indonesia wajib membeli komoditas energi dari AS senilai USD 15 miliar setiap tahunnya, seperti tertuang dalam Agreement on Resiprocal Trade (ART).
“Volumenya untuk Amerika kita harus belanja 15 billion USD itu sudah final, switch-nya dari mana-mana itu (diumumkan) 3 minggu dari sekarang,” kata Bahlil dalam konferensi pers daring, ditulis Sabtu (21/2/2026).
Dia mengatakan, masih akan menghitung jumlah impor dari negara lain yang akan dipangkas. Bocorannya, paling banyak sumber dari Asia yang akan dikurangi.
“Saya pulang saya akan hitung lagi, sebagian dari Asia Tenggara mungkin pangkas paling banyak disitu, kemudian di Middle East, dan beberapa negara di Afrika. Jadi kita akan prioritaskan untuk mengambil di Amerika dengan angka 15 billion USD,” tuttur dia.
Dia juga akan menyiapkan regulasi agar proses impor nantinya tidak akan membebani PT Pertamina (Persero) sebagai pelaksananya. Termasuk harga pembelian BBM-LPG dengan nilai yang kompetitif.
“Kita juga akan membuat peraturan yang membuat mereka juga aman, nyaman, jadi dengan maksud agar nilai pembeliannya itu nilai ekonomis yang kompetitif yang saling menguntungkan antara kedua belah pihak,” jelas Bahlil.

