Universitas Terbuka (UT) resmi memasuki era baru di bawah kepemimpinan Rektor Prof. Dr. Ali Muktiyanto, S.E., M.Si selama 5 tahun ke depan. Lewat acara UT Media Day 2025 yang mengusung tema “Kepemimpinan Baru, Arah Baru: Kolaborasi Media dan Universitas Terbuka untuk Kemajuan Pendidikan Tinggi yang Berdampak bagi Indonesia”, UT berkomitmen menjadi pusat inovasi Pendidikan Tinggi Terbuka Jarak Jauh (PTTJJ) yang inovatif, berbasis digital, dan berkualitas.
Transformasi ini tak hanya menekankan penguatan ekosistem digital, tetapi juga perluasan akses pendidikan tinggi hingga wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar). UT menempatkan diri sebagai representasi dalam membuka pintu pendidikan bagi semua, sekaligus menyiapkan target pencapaian 2,5 juta mahasiswa pada tahun 2045.
Sehubungan dengan arah baru tersebut, Ali menekankan pentingnya peran UT sebagai instrumen strategis dalam meningkatkan kualitas dan pemerataan pendidikan tinggi di Indonesia.
“UT adalah instrumen penting bangsa untuk meningkatkan kualitas pendidikan tinggi. Instrumen penting bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat Indonesia. Tidak ada negara maju tanpa pendidikan tinggi yang berkualitas, tanpa kuantitas warga yang memiliki pendidikan tinggi,” ujar Ali, Rektor UT dalam acara UT Media Day 2025.
Ia menambahkan bahwa transformasi arah baru kepemimpinannya akan dimulai dengan keteladanan atau role model bagi lingkungan.
“Kami ingin semua bisa menjadi teladan, role model bagi diri kita, lingkungan kita, masyarakat kita. Tidak hanya bagi sivitas akademika UT, tetapi juga mahasiswa, alumni, dan semua pihak yang terlibat dalam mandat pendidikan gotong-royong ini,” ungkapnya.
UT Hadirkan Inovasi Digital yang Adaptif
Guna mewujudkan tujuan menjadi perguruan tinggi yang dapat dijangkau semua, UT terus memutakhirkan inovasi pembelajaran agar bisa diakses siapa saja, termasuk masyarakat di wilayah 3T.
Berkaitan dengan itu, Ali menyebut bahwa UT telah menyiapkan inovasi pembelajaran jarak jauh yang adaptif guna memperluas akses pendidikan tinggi di Indonesia.
“Kami mengembangkan digital platform untuk bahan ajar yang selalu up to date. Mahasiswa bisa update setiap saat tanpa keterlambatan,” jelasnya.
Tak hanya itu, UT saat ini tengah memperkuat digital platform dalam proses pembelajaran lewat Learning Management System (LMS). Inovasi ini memungkinkan mahasiswa belajar di mana pun dan melakukan evaluasi belajar secara bertahap, tanpa harus menunggu satu semester penuh.
Inovasi lain yang tengah disiapkan adalah automated online proctoring. Dengan teknologi ini, mahasiswa dapat mengikuti ujian dari gawai pribadi secara aman dan terverifikasi selama tersedia koneksi internet.
“Dan yang terakhir, terkait ujian, tidak lagi hanya ujian online proctoring, tapi kita ingin juga menjadi automated online proctoring. Di mana mahasiswa bisa ujian by own gadget. Di mana pun dan kapan pun, yang penting ya ada sinyal,” katanya.
Dengan berbagai upaya inovasi digital ini, harapannya jumlah target 2.5 juta mahasiswa UT pada tahun 2045 akan terwujud di kemudian hari.
“Saya sangat optimis, data sejak 2020 menunjukkan pertumbuhan mahasiswa kita eksponensial. Jadi, jangan heran kalau nanti bisa menyaksikan kita mencapai 2.5 juta mahasiswa. Bahkan kalau kita berjuang bersama dengan platform dan fokus yang sama, 2040 mungkin tercapai lebih cepat,” tambahnya.
Penguatan SDM dan Kolaborasi Media: UT Siapkan Mahasiswa Unggul
Selain inovasi digital, penguatan sumber daya manusia (SDM) di perguruan tinggi juga menjadi kekuatan untuk menghasilkan mahasiswa unggul di Indonesia, terlebih kini dunia sudah semakin canggih dengan kehadiran Artificial Intelligence (AI).
Menyadari hal itu, UT mempersiapkan segala kemampuan soft skill yang tak pernah bisa digantikan oleh AI seperti kemampuan negosiasi lewat pembekalan pengajaran dosen yang lebih berkualitas.
“Oleh karena kecanggihan AI itu, kami membekali dosen kami untuk tidak lagi melulu pada materi-materi yang sifatnya kognisi saja, tetapi juga berfokus pada materi-materi yang sifatnya analitika yang sifatnya sintesis,” kata Ali.
Menurutnya, kemajuan teknologi bukan ancaman, melainkan alat yang harus dimanfaatkan untuk mendukung pembelajaran dan SDM yang lebih maju.
“Kalau kita gagal memanfaatkan teknologi, teknologi akan menjajah kita. Tapi kalau kita mampu memanfaatkan teknologi, ia akan menjadi budak paling setia,” tuturnya.
Dalam membangun ekosistem pendidikan tinggi yang inklusif, Ali juga menempatkan media sebagai mitra strategis. Media dinilai sebagai pilar demokrasi yang memegang peran penting dalam menyebarkan informasi akurat terkait demokratisasi pendidikan secara lebih luas.
“Saya ingin mengajak seluruh media untuk mari kita bersama-sama wujudkan pendidikan tinggi yang berkualitas bagi semua di mana pun berada secara fleksibel dan bertanggung jawab,” ajak Ali kepada rekan media.
Menurutnya, media dapat berperan besar lewat penyebaran informasi terkait berita baik bahwa perguruan tinggi di Indonesia, seperti UT, siap bersaing di kancah dunia.
Di bawah kepemimpinan baru ini, UT melangkah sebagai institusi yang tidak hanya hadir sebagai pintu pendidikan masyarakat Indonesia, tetapi juga hadir di relung hati mereka yang percaya bahwa pendidikan adalah jalan menuju kesejahteraan dan masa depan bangsa.

