Liputan6.com, Jakarta – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan bahwa pengembangan industri semikonduktor nasional diarahkan pada penguatan sumber daya manusia (SDM) agar Indonesia tidak bergantung pada teknologi dari luar negeri.
Menurutnya, strategi tersebut berbeda dengan pendekatan yang hanya berfokus pada pembangunan fasilitas manufaktur. Pemerintah memilih untuk menyiapkan talenta dan kemampuan teknologi dalam negeri sebagai fondasi utama pengembangan industri semikonduktor ke depan.
“Indonesia memilih untuk pengembangan SDM yang berbeda dibandingkan pengembangan yang lain karena salah satu juga yang bisa kita temukan adalah membangun foundry dari silika sand. Tetapi ini manufaktur yang tetap akan menggantungkan teknologinya pada luar negeri,” ujar Airlangga usai menghadiri acara Pembekalan Nasional Talente Semikonduktor, Kamis (5/3/2026).
Airlangga menjelaskan bahwa pendekatan berbasis SDM dipilih agar Indonesia tidak mengulangi pengalaman pada masa lalu ketika industri elektronik dalam negeri hanya berperan pada tahap perakitan dan pengujian. Pada masa tersebut, industri tidak memiliki kemampuan teknologi yang kuat sehingga sangat bergantung pada perusahaan asing.
“Nah, khusus untuk semikonduktor itu kita hindari. Kita ingin membangun kemampuan SDM dalam negeri dan ini untuk tidak mengulangi kesalahan pada tahun 80an di mana kita hanya menggantungkan kepada assembling, testing, packaging dari Fairchild,” tuturnya.
Ia menambahkan bahwa ketika perusahaan tersebut menghentikan operasinya, industri yang bergantung pada aktivitas tersebut ikut terdampak. Kondisi itu menjadi pelajaran bagi pemerintah untuk membangun kemampuan teknologi yang berasal dari dalam negeri melalui penguatan talenta dan ekosistem pendidikan di bidang semikonduktor.










