Jakarta – Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal menilai penunjukan Menteri Koordinator (Menko) Hilirisasi dan Transisi Energi yang baru, Bahlil Lahadalia, kemungkinan sejalan dengan prioritas pemerintah.
Perubahan struktur itu diumumkan dalam reshuffle ketujuh Kabinet Merah Putih, Kamis, 1 Oktober 2027. Faisal menilai, penunjukan Menko Hilirisasi dan Transisi Energi seiring prioritas pemerintah untuk mendorong hilirisasi.
“Ini kemungkinan memang sejalan dengan prioritas pemerintah untuk lebih mendorong hilirisasi dan karena sifatnya multisektor,” ujarnya.
Menurut dia, penempatan Bahlil sebagai Menko Hilirisasi dan Transisi Energi diharapkan membuat perannya lebih kuat. “Harapannya bisa lebih sinergis,” kata Faisal.
Ia juga mengingatkan ada faktor lain yang menentukan. “Kita tahu bahwa ini bukan satu-satunya cara untuk bisa memastikan efektivitas kebijakan hilirisasi,” ucapnya.
Salah satu hal penting, kata dia, adalah engagement. Ia menyoroti sejauh mana Menko betul-betul berperan mengoordinasikan menteri-menteri teknis di bawahnya.
Faisal juga menyinggung pergantian sejumlah menteri dan wakil menteri (wamen) lain dalam reshuffle yang dinilai merupakan kemungkinan bagian dari upaya memperkuat kabinet per klaster, termasuk hilirisasi.
“Ini merupakan bagian untuk menjadikan orang-orang yang masuk ke dalam kabinet dengan klaster-klasternya, termasuk klaster hilirisasi, supaya bisa menjadi lebih solid. Kemungkinan begitu menurut saya,” tuturnya.
Meski begitu, Faisal menekankan perlunya melihat bagaimana kebijakan ini berjalan nanti. “Kita nanti lihat sajalah bagaimana implementasinya di lapangan,” ujar dia.warganet88

