Liputan6.com, Jakarta – Polisi turun tangan menyelidiki kasus penganiayaan tiga pegawai SPBU di Cipinang, Pulogadung, Jakarta Timur. Pelaku mengaku sebagai aparat dengan jabatan tinggi.
“Iya ini lagi lidik,” kata Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Timur AKBP Dicky Fertoffan dalam keteranganya, Selasa (24/2/2026).
Dicky menerangkan, kejadian bermula saat terduga pelaku hendak mengisi Pertalite di SPBU tersebut. Namun permintaan pengisian tidak dilayani petugas.
“Yang bersangkutan mau isi Pertalite tidak dilayani oleh SPBU,” ujar dia.
Saat ditanya alasan tidak dilayani, Dicky menyebut karena pelat nomor kendaraan pelaku tidak sesuai peruntukan.
“Pelat-nya tidak sesuai. Tidak untuk peruntukannya,” ucapnya.
Terkait terduga pelaku yang mengaku aparat, Dicky mengatakan pihaknya belum mau berkomentar lebih jauh.
“Lagi lidik, doain ya keungkap ini lagi di lapangan,” tandasnya.
Pengakuan 3 Korban Penganiayaan
Tiga pegawai yang dianiaya yakni Ahmad Khoirul Anam bekerja lima tahun sebagai staf, Lukmanul Hakim operator bekerja setelah lulus SMK dan Abud Mahmudin operator yang sudah empat tahun bekerja.
Aparat tersebut menampar pipi Khoirul Anam. Sementara Lukman dipukul di rahang sebelah kanan. Sedangkan Abud dipukul di bawah mata dan di pipi dekat mulut hingga giginya copot.
Pemilik SPBU 3413901 Ernesta langsung melaporkan kejadian penganiayaan terhadap pegawainya ke Polsek Pulogadung. Pihak Propam juga sempat mendatangi lokasi.”Kami sudah laporkan juga ke Polsek Pulo Gadung seberang SPBU, dan pegawai-pegawai saya yang luka-luka juga sudah divisum,” kata Ernesta. Demikian dikutip dari Antara, Selasa (24/2/2026).
Dia juga mengakui kejadian itu membuatnya trauma dan khawatir karena pelaku bisa saja datang kembali. Pelaku sempat menyebut dirinya memiliki jabatan tinggi, sehingga membuat para operator merasa terintimidasi.
“Takutnya dia datang lagi nyari saya. Dia sempat manggil-manggil nama saya. Kita hanya orang biasa. Takutnya dia balik lagi bawa backing-an. Jadi, masih khawatir,” ucap Lukman.
Tak hanya Lukman, dua operator lain yang turut menjadi korban penganiayaan, yakni Ahmad Khoirul Anam dan Abud Mahmudin juga memilih beristirahat di rumah masing-masing. Meski tidak menjalani perawatan di rumah sakit. Namun keduanya shock pascainsiden tersebut.
Abud juga menceritakan penganiayaan yang dia alami. Pukulan pelaku di bagian pipi membuat giginya patah.
“Gigi saya patah jadi setengah doang, tidak rata. Berdarah karena sarafnya kena pas dihajar bagian pipi,” kata Abud.Dia mengaku tidak mengetahui secara pasti awal mula keributan yang terjadi di lokasi kerjanya.
Saat peristiwa itu berlangsung, dia hanya berniat melihat situasi karena mendengar kegaduhan di area depan SPBU. “Saya tidak tahu awalnya gimana. Niatnya cuma mau tahu aaja, kayak kepo doang karena ada kerusuhan. Namanya juga di lingkungan kerja,” ujar Abud.










