Liputan6.com, Bandung – Sebanyak 27 persen rumah di Kota Bandung, Jawa Barat tidak memiliki septic tank. Hal itu disampaikan oleh Wali Kota Bandung Muhammad Farhan, berdasarkan hasil pemantauan Sistem Keamanan Lingkungan (Siskamling) dan Layanan Catatan Informasi Rukun Warga (Laci RW).
Menurut Farhan akibat belum memiliki septic tank, limbah rumah tangga masih dibuang langsung ke sungai. Kondisi ini memicu tingginya angka diare, yang berkontribusi pada kasus gagal tumbuh kembang (stunting).
“Persoalan septic tank tidak sederhana. Banyak rumah di gang padat memiliki toilet di bagian belakang yang menghadap sungai,” ujar Farhan dalam siaran medianya ditulis Bandung, Senin (23/2/2026).
Farhan menjelaskan untuk memindahkan saluran ke septic tank komunal di depan rumah, warga membutuhkan biaya sekitar Rp 5 juta. Besaran biaya itu cukup berat bagi sebagian masyarakat.
Solusinya ucap Farhan, Pemerintah Kota (Pemkot Bandung) mengembangkan inovasi biotank. Jika sebelumnya satu septic tank komunal untuk 3–5 rumah menelan biaya Rp 21 juta, kini bisa ditekan menjadi sekitar Rp15 juta.
“Biotank tersebut tidak perlu disedot secara rutin karena menggunakan cairan pengurai seharga sekitar Rp 60 ribu per tiga bulan,” kata Farhan.
Tak hanya itu, rumah tidak layak huni (rutilahu) dengan sirkulasi udara dan pencahayaan buruk turut memicu tingginya kasus tuberkulosis (TBC).
Mendatang, Farhan menyebut Pemkot Bandung akan menyiapkan skema subsidi mirip program rutilahu untuk membantu biaya pemindahan saluran toilet warga.
“Ini soal keberpihakan anggaran. Kita harus hadir untuk memastikan sanitasi membaik,” jelas Farhan.










